Sabtu, 31 Agustus 2013

TUMPEK LANDEP

                                                                             



            Umat Hindu khususnya di Indonesia pada tanggal 24 Agustus 2013 melaksanakan Upacara Tumpek Landep, upacara ini dilaksanakan oleh masing- masing keluarga dengan sangat hikmad. (sabtu 3/8).
            Tumpek artinya Adalah Sabtu Kliwon. datang setiap 35 hari sekali merupakan Hari Raya Pemujaan kehadirat Sanghyang Widhi Wasa atas anugerahnya terhadap kesejahteraan umat manusia yang dapat dinikmati dalam hidupnya yang berwujud kelestarian alam. Ada 6 macam tumpek meliputi :Tumpek Landep, tumpek Wariga, tumpek kuningan, tumpek Kerulut, tumpek Uye, dan tumpek Wayang.
             Salah satu tumpek yang sedang kita rayakan/ laksanakan tanggal 24 Agustus 2013 ini adalah Tumpek landep  (datangnya setiap 210 hari atau 6 bulan sekali). Merupakan Hari Raya memperingati kebesaran Sanghyang Widhi Wasa dalam wujud Sanghyang Pasupati yang memberikan kekuatan terhadap sarwa senjata untuk mendapatkan ketajaman serta kemampuan dalam menolak atrsu, yaitu :menundukkan musuh baik lahir maupun bathin.
             Pada saat persembahyangan Tumpek Landep semua benda- benda Pusaka Keris, tombak, sarwa  lalandep peralatan perorangan rumah tangga dan lain- lain seperti gong/ gamelan, alat- alat pertukangan seperti serut, gergaji pahat, mesin, komputer, tv, kendaraan baik roda dua maupun roda empat, senjata api dan lain- lain. Semua alat dan peralatan tersebut di kumpulkan ditempat upacara untuk diupacarai.
             Upakara/ sarana yang diperlukan dalam pelaksanaan Tumpek landep adalah :Daksina, Canang Sari, Canang Raka Serba warna merah, Tumpeng merah, dan Ayam Merah (Ayam Biying) di panggang. banten Duur Menggala, dan Prayascita.

             Mantranya adalah : a. Astra Mantra, OM UNG RAH PAT ASTRA YA NAMAH, OM ATMA TATTWA ATMA SUDDHAMAM  SWAHA, OM...OM  KSAMA SAMPURNA YA NAMAH, OM...OM SHRI PASUPATA YA UNG PAT, OM SHRYAM BHAWANTU, OM SUKKHAM BHAWANTU, OM PURNAM BHAWANTU YA NAMAH SWAHA. Artinya :Om Sanghyang Widhi Wasa sebagai penyelamat tanpa awal dan akhir sebagai sumbernya kehidupan, sucikanlah kami ini, maafkanlah ketidak sempurnaan kami, waranugerahilah kami kemakmuran, keselamatan dan kesempurnaan. b. Pasupati stawa, OM PASUPATI PADMA RAKSA RUPAYA, MADYA MUKA DESA ASTABYA, PASUPATI UNG PAT YA NAMAH SWAHA. Artinya :Om Sanghyang Widhi Wasa, yang ber manifestasikan Sanghyang Pasupati dengan kekuatan sebagai asta dala (Padma). Lindungilah dengan Sinar Suci- Mu. Engkau yang berstana di tengah- tengah kiblat dunia selamatkanlah kami ini.

             Akhirnya pelaksanaan Tumpek Landep pada intinya adalah bagaimana meningkatkan kekuatan atau ketajaman (Taksu) diri kita baik secara jasmani maupun rohani. Terhadap segala benda- benda material yang kita miliki seperti senjata alat peralatan yang kita perlukan dalam hidup dan kehidupan ini dimohonkan kekuatan Kepada Tuhan (Sanghyang Pasupati) agar memberi manfaat dan keselamatan. (mangkukris/31/08).

Rabu, 18 April 2012

MELALUI BERJAPA GAYATRI MANTRA, KITA TINGKATKAN BHAKTI KEPADA IDA SANGHYANG WIDHI WASA DAN NEGARA







Pada hari selasa tanggal 17 April 2012, Bapak I Nyoman Putra, S. Ag, M. Ag, M. Si, memberikan pembinaan Rohani Hindu, Kepada Personil Militer maupun Sipil yang ber Agama Hindu Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar di Pura "Praja Rakcaka" Kepaon Denpasar Bali. (Rabu, 18/4).
Dalam Dharmawacananya Bapak Nyoman Putra mengambil topik, "Melalui berjapa Gayatri Mantra, Kita Tingkatkan Bhakti Kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dan Negara".Mengawali dengan memperkenalkan diri, dari manusia biasa sampai menjadi Rohaniawan yang sudah berkeliling diseluruh wilayah Nusantara ini lebih kurang di 27 Propinsi, beliau menyampaikan Dharmawacananya dengan sangat menghibur dan menyenangkan, inilah ciri- ciri yang tidak dapat disembunyikannya bahwa beliau adalah Rohaniawan yang berpengalaman, syukurlah pencerahan ini sampai kepada kita melalui niat sucinya. Bhakti artinya adalah pengabdian yang tujuannya untuk keselamatan semua fihak dan kepentingan yang lebih besar, bhakti kepada Negara misalnya seorang TNI, harus disiplin, jujur benar dan adil, karena negara itu sesungguhnya adalah meliputi Wilayah, Rakyat, Pemerintahan, dan Militer (TNI). Jadi disiplin, jujur, benar, dan adil adalah wujud Bhakti TNI kepada Negara, dan apabila ini tidak dilakukan, negara akan terus- menerus didera kekacauan, dan pada akhirnya akan menuju kehancuran. Sedangkan Bhakti Kepada Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa), kita sebagai umat Hindu wajib mentaati dan melaksanakan Ajaran- ajarannya yang berisi perintah- perintah sebagai mana yang tercamtum di dalam "Kitab Suci Weda", diwajibkan sembahyang 3 kali se hari (Tri Sandhya), ya kita laksanakan jangan ditawar- tawar lagi. Sehubungan dengan hal ini ada ajaran rahasia yang terdapat didalam kitab Suci Weda, dan banyak umat Se Dharma yang tidak mengetahuinya khususnya Umat Hindu yang ada di Bali, karena memang ajaran Weda itu sangat bersifat Rahasia. Gayatri Mantra, adalah Ibu dari semua Mantra, karena dengan berjapa Gayatri Mantra Sudah mewakili Ribuan Mantra, dan ini sudah di buktikan kedasyatannya oleh Bapak Nyoman Putra sebagai nara sumber, dengan 36 dan 108 kesaksian dari dua buah Bukunya yang sudah diterbitkan tentang Kedasyatan Gayatri Mantra, setelah Berjapa Gayatri Mantra akan timbul vibrasi cinta kasih, sembuh dari penyakit yang diderita, banyak rejeki, penuh dengan perdamaian, intinya sehat dan selamat, serta binatang dan tumbuh- tumbuhanpun akan terlindungi. Dengan Gayatri Mantra setiap sembahyang minimal 9 kali dan bila berjapa sebanyak 108 kali sesuai jumlahnya Gni Tri, dan tepat dilakukan pada waktu- waktu Brahma Muhurtha, misalnya di pagi hari pada pukul 03.30 sd. 04.30 dan selanjutnya pada siang hari dan sandhyakala, Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma akan dapat dicapai. Inilah rahasia ajaran Hindu yang tertuang dalam Kitab Suci Weda, dan banyak yang tidak mendalaminya, oleh karena itu kita yang sudah mengetahui rahasia ini, wajib menularkan/ mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya, terutama kepada anak- anak kita, karena banyak anak- anak sekarang berani melawan orang tuanya akibat orang tuanya tidak mengajarkan Agamanya kepada anaknya. Menurut Kitab Weda, Bagi Orang Tua yang tidak mengajarkan Agama kepada anak- anaknya, anak- anaknya akan menjadi musuhnya, dan apabila berlarut- larut akan menghancurkan hidupnya. Selain berjapa Gayatri Mantra, wajib dilakukan ber Dana Punya pada jaman kali ini, oleh karena itu yadnya dalam bentuk Banten tetap dilakukan, karena dalam Banten tersebut intinya adalah ada Dhaksina, di dalam Dhaksina ada Sesari berupa uang kertas atau uang kepeng, dan pemberian sesari ini karena merupakan Dana Punya agar disesuaikan dengan kemampuan berdasarkan hati yang jujur hening dan tulus iklas. Untuk melakukan perintah Agama sesuai dengan Kitab Suci Weda, agar bermakna dan mencapai tujuan sesuai dengan cita-cita kita ber Agama Hindu, dalam melaksanakan ajaran tersebut, jangan ragu-ragu, lawan sifat- sifat/ kebiasaan- kebiasaan tamas atau malas, hindari ogo yang membahayakan, harus rendah hati, dalami dan laksanakan ajaran- ajaran Weda, bergurulah kepada orang cerdas dan suci, dan akhirnya jangan lupa berjapa Gayatri Mantra setiap saat dan ber Dana Punya sesuai dengan kemampuan. Ber Bhakti kepada Negara, adalah berarti kita dalam hidup dan kehidupan ini harus berbuat disiplin, jujur, adil, demi tegak dan utuhnya Negara ini. Ber Bhakti Kepada Tuhan ( Ida Sanghyang Widhi Wasa), berarti kita melaksanakan ajaran- ajarannya dengan benar, dengan Berjapa Gayatri Mantra, sebagai Ibunya semua Mantra senantiasa akan menghantarkan kita tercapainya tujuan, yaitu kebahagiaan hidup baik di dunia ini maupun dunia akhirat ( Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma). Akhirnya, "Asatoma sat gamaya, tamasoma sat gamaya, mrthyorma amrtham gamaya", artinya Ya Tuhan tuntunlah kami dari ketidak benaran menjadi kebenaran, tuntunlah kami dari jalan yang gelap menjadi jalan yang terang, tuntunlah kami dari kematian untuk menjadi kehidupan yang abadi. Om Santih...Santih...Santih Om.                   


                                                                                

Selasa, 10 April 2012

UPACARA RSI GANA, MUPUK PEDAGINGAN, PEMELASPASAN, DAN PIODALAN PURA AGUNG UDAYANA MAKODAM IX/ UDAYANA








Para Anggota Militer maupun Sipil Makodam IX/Udayana yang ber Agama Hindu, melaksanakan upacara Rsi Gana, Mupuk Pedagingan, Pemelaspasan, dan Piodalan Pura Agung Udayana Makodam IX/ Udayana, pada Purnama Kedasa hari Jumat tanggal 6 April 2012. (Selasa,10/4).

Upacara ini rencananya dihadiri oleh Bapak Pangdam, Kerena sesuatu hal, menjadi diwakilkan Kepada Bapak Asisten Territorial Kasdam IX/ Udayana Bapak Kolonel Inf. I Made Datrawan, hadir juga pada kesempatan tersebut perwakilan dari Para Asisten, Ka Balak serta Denmadam IX/ Udayana, juga para Umat Hindu Makodam dan Keluarganya. Upacara tersebut diawali laporan dari Ketua Panitia Bapak Letkol Kav. I Ketut Arta Yasa, bahwa upacara ini dilaksanakan diawali karena adanya musibah kebakaran Piyasan Pura ini pada tanggal 2 November 2011, dan diadakan perbaikan, ditambah 2 bangunan baru berupa altar tempat Upakara dan dibawahnya dipakai untuk menyimpan alat- alat, prabot , dan karpet sarana persembahyangan. Perbaikan pura ini menghabiskan dana sebanyak Rp 111.000.000,- (Seratus Sebelas Juta Rupiah), dana tersebut didapat dari dana punya umat Hindu makodam, Bapak Bupati Badung, dan Bapak Pangdam IX/ Udayana, kami pada kesempatan ini atas nama umat Hindu makodam dan pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada semua fihak yang telah berpartisifasi baik berupa materi maupun pemikiran demi terwujudnya Pura Dan Upacara seperti ini, mudah- mudahan Tuhan Ida Sanghyang Widhi Wasa, selalu memberikan waranugerahanya kepada kita semua Swasti dan Santih. Pada Purnama kelima kamis pahing wuku Dukut tanggal 10 nvember 2011, telah dilaksanakan Pemelaspasan alit, kemudian sekarang diadakan Upacara yang lebih besar seperti ini. Acara selanjutnya adalah sambutan Pangdam IX/ Udayana yang diwakilkan kepada Bapak Aster Kasdam IX/ Udayana mengatakan, selamat atas telah diperbaikinya dan dilaksanakannya Upacara Rsi Gana, Mupuk Pedagingan, Pemelaspasan, pedudusan alit, dan Piodalan Pura Agung Udayana Ini, mudah- mudahan dengan upacara sebesar ini, dapat lebih meningkatkan keimanan khususnya umat Hindu Makodam IX/ Udayana, jadikanlah Pura ini tempat sembahyang setiap hari, karena setelah Upacara ini, vibrasi kesucian di Pura ini sudah tentu bertambah kuat. Selamat untuk semuanya, Tuhan Memberkati. Acara selanjutnya adalah Upacara pensakralan Pura sesuai ajaran agama Hindu dipimpin oleh Ida Pedanda Ghrya Telabah Munggu Denpasar Bali. Diawali dengan Rsi Gana, yang tujuannya untuk meruwat para Bhuta Kala dengan menstanakan/ mewujudkan Dewa Gana, dilanjutkan dengan Mupuk Pedagingan, Penguri- urip, Pemelaspasan,dan Piodalan Pura, yang setiap Tahunnya dilaksanakan pada Purnama Kedasa. Pada upacara ini dipersembahkan Wayang Sapuleger, dengan dalang Jro Mangku Dalang Mayor Caj Drs. I Gusti Nyoman Japi, disamping itu dipersembahkan juga tari Rejang dari Anak- anak remaja umat Hindu Kodam IX/Udayana, dan Topeng Siddha Karya Dari anggota Kodim 1611/ Badung yang beragama Hindu. Upacara tersebut diakhiri dengan persembahyangan dan Parama Santi, dan pada kesempatan tersebut disampaikan Dharma Wacana oleh Dr. I Gusti Made Ngurah, dalam Dharma Wacananya mengatakan :Upacara Rsi Gana adalah dalam Panca Yadnya termasuk Bhuta Yadnya, yaitu ditujukan kepada para Bhuta Kala, yang tujuannya Para Bhuta Kala agar tidak mengganggu kehidupan Manusia Maupun Para dewa, pada Upacara ini yang sangat berperanan adalah Dewa Gana, sehingga saat Upacara ini diadakan, Ida Sulinggih menstanakan/ mewujudkan Dewa Gana sebagai Awghnaswara, karena Dewa Gana adalah Dewa yang sangat Sakti dan yang mampu mengalahkan Kala Nila Rudraha ketika Sorga diserangnya. Kenapa Dewa Gana menjadi Dewa yang Paling sakti ? Ketika Ibunya Dewa Gana yang bernama Dewi Parwati Beristana di Gunung Kailasa, berpesan... anakku Dewa Gana agar menjaga ibu disini, siapapun yang masuk ke istana ini tanpa seijin ibu terlebih dahulu tidak boleh masuk istana ini. Suatu ketika Dewa Siwa, Ayahnya Dewa Gana atau suaminya Dewi Parwati mau masuk ke Istana Dewi Parwati Di Gunung Kailasa yang Telah dijaga oleh Dewa Gana, Dewa Siwa Tidak Dibolehkan masuk Istana tersebut karena Dewa Gana tidak tahu bahwa dewa Siwa itu adalah Ayahnya, dan juga karena taat dengan perintah Ibunya, sehingga terjadilah peperangan yang sangat dasyat antara ayah dan anak ini, lama terjadi pertempuran tidak ada yang mengalah. akhirnya kemarahan Dewa Siwa Mencapai puncaknya dikeluarkanlah senjata Cakra dan memotong leher Dewa Gana, terpenggallah Dewa Gana, kepala terlepas dari lehernya. Selanjutnya datanglah Dewi Parwati, diikuti oleh para dewa Kahyangan, semuanya menangis sedih, Dewa Siwa baru menyadari bahwa yang di bunuh itu adalah Putranya dan Dewa Siwa menjadi sangat bersedih minta maaf kepada Dewi Parwati sambil memangku jenazah Putranya. Akhirnya para Dewa mengganti kepala Dewa Gana Dengan Kepala Gajah, dan semua memberkati, menghidupkan, mendoakan agar Dewa Gana mejadi Dewa yang paling sakti dan mampu menghancurkan keangkara murkaan, serta menetralisir hal- hal yang negatif menjadi baik (diambil dari salah satu kitab purana). Dengan upacara Rsi Gana Pengaruh- pengaruh negatif para Bhuta Kala diharapkan akan dapat dinetralisir kembali menjadi Roh- roh suci, Dewa- Dewi dan pada akhirnya akan menyelamatkan kita semua atau disebut "Somyo". Demikian besarlah peranan Rsi Gana tersebut, dan upacara ini wajib dilaksanakan bila Tempat Suci, Pura, Merajan, Rumah tempat tingga atau pekarangan kena musibah :Kebakaran, disambar petir, ada lutut (ulat yang sambung- menyambung), ada pembunuhan manusia, ada darah manusia tanpa sebab, mininggal, dan lain- lain. Selanjutnya Mupuk Pedagingan, mupuk berarti menambahi atau menyempurnakan pedagingan yang sudah ditanam disetiap bangunan- bangunan suci tersebut. Pedagingan ini adalah berupa Panca Datu atau lima macam logam (emas, perak, tembaga, besi, dan perunggu) dan ditambah ratna manikam berupa permata Mirah. Panca Datu ini bertujuan untuk menghidupkan vibrasi kesucian didalam tempat suci tersebut sehingga tempat suci tersebut menjadi metaksu dan benar- benar menjadi stananya Para Dewa dan Ida Sanghyang Widhi Wasa, karena Para Dewa atau Tuhan itu adalah Kesucian itu. Penggunaan Panca Datu ini diawali di Bali, pada kedatangan Rsi Markandya, dimana pada kedatangan pertama dengan pengiring 400 Orang gagal menduduki Bali, kemudian pada kedatangan kedua dengan pengiring yang lebih banyak berhasil menduduki Bali, setelah menanam pedagingan berupa Panca Datu di Batu Madeg Besakih Bali. Kemudian Pemelaspasan, bertujuan untuk menhidupkan kembali bangunan- bangunan tersebut dengan menstanakan/ mewujudkan Bhtara Wiswakarman sebagai arsitek bangunan para Dewa. Pemelaspasan ini penting dan disertai dengan pengurip- urip, karena bangunan tersebut, sebagian besar dibikin dari kayu yang sebelumnya merupakan makhluk hidup yang mempunyai eka pramana, kemudian ditebang menjadi mati, dan karena inilah perlu dihidupkan kembali dengan upacara pemelaspas atau di urip, agar kita tidak berada dibawah bangkai (mati). Kemudian Pedudusan Alit atau Agung, bertujuan untuk lebih menajamkam kesucian pada tempat suci tersebut, padudusan alit minimal menggunakan 5 jenis kelapa misalnya kelapa bulan, kelapa udang, kelapa be julit, kelapa rangda, kelapa suddha mala. bila Pedudusan Agung menggunakan 11 jenis kelapa. Selanjutnya upacara Pengenteg Gumi, bertujuan untuk menstabilkan keadaan suatu wilayah yaitu untuk mewujudkan konsep Tri Hita Karana, ini diperlukan korban serba 108 misalnya jenis buah, daun, duri dan lain-lain. Akhirnya Piodalan Atau Pathirtan Pura atau Merajan, adalah untuk memperingati kapan tempat suci tersebut disucikan, ini bisa mengambil sistim Pawukon atau Sasih, bila mengambil Pawukon berarti piodalan setiap 6 bulan, bila mengambil sasih berarti piodalan tersebut setiap 1 Tahun. piodalan ini berarti Ida Bhtara- Bhtari Medal, sehingga para pengempon tempat suci/ Pura bersangkutan memendak yang distanakan di Tempat suci bersangkutan, disinilah para umat mewujudkan Bhaktinya dengan bermacam- macam persembahan, Tuhan sebagai Sanghyang Tiga Guru Wisesa, Sanghyang Tryodasasaksi, akan menyaksikan dan memberkati upacara tersebut bila beliau diwujudkan secara rohani, disamping itu Para Dewa- Dewi, Bhtara- Bhtari, Roh- Roh suci lainnya akan datang sesuai dengan urutannya, setelah menghaturkan piodalan dengan perlengkapannya (upakara), akhirnya diadakan Upacara Nyineb Atau Ngelebar, yang paling dahulu disineb adalahTuhan yang diwujudkan sebagai Upasaksi, kemudian baru diikuti oleh Dewa- Dewi Bhtara- Bhtari, Roh leluhur Pitara-pitari serta para unen-unen rencang iringan semuanya...Suksma. Om Santih...Santih...Santih Om.

Kamis, 19 Januari 2012

MEMAKNAI LUBDAKA DALAM AJARAN SIWARATRI KALPA




Ibu Dra. Ni Made Sriarwati dari Departemen Agama Provinsi Bali, memberikan pembinaan Rohani kepada lebih kurang 700 Orang anggota Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar, bertempat di Pura Praja Raksaka Kepaon Denpasar Bali. Selasa (17/01).

Ibu Sriarwati yang banyak menyusun Buku- buku tentang Upakara Yadnya dan Gegitaan itu, dalam Dharmawacananya, dengan judul "Memaknai Lubdaka dalam Ajaran Siwaratri Kalpa"mengatakan, Lubdaka semasa hidupnya di dunia ini adalah banyak berbuat dosa, karena dia adalah seorang pemburu binatang berarti dia seorang pembunuh, dalam ajaran Agama Hindu perbuatan ini adalah dosa, dan apabila tidak dilebur dengan penebusan dosa yaitu dengan cara berbuat baik, yang bersangkutan akan jatuh ke neraka, namun Lubdaka berhasil menetralisir dosa- dosanya, dengan cara tidak disadarinya di malam bermeditasinya Bhtara Ciwa (Ciwa Ratri) dihadapan Bhtara Ciwa, Lubdaka melaksanakan Bhrata Ciwa Ratri yang uttama dan sempurna (Jagra, Mona Bhrata, dan Upawasa). Jagra (tidak tidur), Lubdaka tidak tidur semalam suntuk, karena seharian berburu tidak dapat binatang buruan sehingga sampai malam tidur diatas pohon Bila, sambil memetik- metik daunnya dan dijatuhkan kedalam kolam dibawah pohon tersebut, yang kebetulan mengenai lingga yang ada di kolam tersebut dan Bhtara Siwa sebagai perwujudan Lingga tersebut yang sedang bermeditasi menerima persembahan itu, sehingga dianggap sebagai seorang Bhakta yang sangat uttama, sehingga Bhtara Siwa akan melindunginya baik di Dunia maupun diakhirat. Mona Bhrata (tidak berbicara), diatas pohon Bila pada malam Siwa (Siwa Ratri), Lubdaka tidak berbicara sepatah kata pun, Sehingga Lubdaka dianggap ikut melaksanakan kegiatan Bhtara Siwa, karena apabila kita mencontoh dan melaksanakan kegiatan Tuhan, berarti kita sudah melaksanakan perintah Tuhan dan dianggap sebagai seorang Bhakta yang sangat setia, dan balasannya pasti Tuhan menyelamatkan Bhaktanya tersebut. Upawasa (tidak makan dan minum), Lubdaka dalam keseharian berpuasa, karena berpuasa ini adalah memutuskan ikatan duniawi untuk menuju dunia rohani (Brahma Jyotir), dengan tidak makan dan minum Tuhan dalam Manifestasi Bhtara Siwa menganggap sangat dekat dengan Nya.

Dengan perbuatan peleburan dosa Lubdaka yang dilakukan dengan tidak sengaja itu, setelah meninggal, Roh /Atma Lubdaka melalui pengadilan kedewataan, karena dosa- dosanya mestinya di jebloskan ke Neraka, tetapi Tuhan yang dimanifestasikan menjadi Bhtara Siwa itu membebaskan dosa- dosa Lubdaka, karena di malam Siwa (Siwa Ratri), melaksanakan Bhrata Siwa Ratri yang Uttama dan sempurna.

Bila Kita simak narasi diatas, di Dunia ini saat ini banyak manusia- manusia yang pendosa dan sangat sedikit bahkan tidak melaksanakan peleburan dosa baik dengan cara sengaja maupun tidak sengaja. jadi disini banyak Lubdak- Lubdaka yang pada akhirnya dijebloskan di Neraka. Karena itu sadarlah bahwa perbuatan dosa ada yang menyaksikan yaitu saksi Bathin (Rohani), dan saksi Lahir (Dunia), saksi dunia bisa diatur dan bisa dimainkan dengan materi, sedangkan saksi Bathin hanya diri- sendiri dan Tuhan yang tahu. Bila kita sadar akan dosa- dosa yang pernah diperbuat tidak mengulanginya lagi selalu berbuat baik melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisuddha, di jaman kali ini laksanakan korban suci berdana punya bantu yang memerlukan sesuai kemampuan dengan jujur hening dan iklas sebut nama Tuhan berkali- kali yang mempunyai Sehasra (Ribuan) nama laksanakan Siwa Ratri dengan benar, Tuhan Bhtara Siwa senantiasa pasti membebaskan dari ikatan dosa, dengan demikian pintu Sorga akan terbuka lebar... Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om.

Selasa, 15 November 2011

PEMELASPASAN ALIT PIASAN PURA AGUNG UDAYANA SETELAH KENA MUSIBAH KEBAKARAN






Para personil Kodam IX/ Udayana yang beragama Hindu baik Sipil maupun Militer sebagai Pengempon Pura Agung Udayana di Makodam IX/ Udayana, melaksanakan pemelaspasan alit terhadap Piasan Pura tersebut, karena telah mendapatkan cuntaka (kebakaran Pada tanggal 2 November 2011). Upacara tersebut dipimpin oleh Kabintaldam IX/ Udayana (Bpk. Kolonel Caj Drs. I Dewa Ketut Budiana, M. Phil. H. Dilaksanakan pada Purnama Kelima Kamis Pahing Wuku Dukut (10/11).
Perlu diketahui, dengan sigapnya Kabintaldam IX/ Udayana, tidak sampai satu Minggu Piasan tersebut telah selesai diperbaiki dengan sempurna, kemudian dilanjutkanlah dengan Pemelaspasan Alit, yang tujuannya agar segera bisa melaksanakan persembahyangan setiap hari di Pura tersebut.
Upacara pemelaspasan diawali dengan Pecaruan Ayam Brumbun (manca warna), dan saruntutannya, serta memakai Gelar Sanga, maksudnya unsur- unsur negatif dan positif menjadi bertemu, terjadilah kehidupan yang bermamfaat bagi Sarwa Prani. Dengan pecaruan (Bhuta Yadnya) akan menetralisir pengaruh- pengaruh buruk, para Bhuta kala diharapkan akan somia atau menjadi roh- roh suci yang selanjutnya akan menyelamatkan kehidupan, khususnya bagi para pengempon Pura Agung Udayana Makodam IX/ Udayana.
Selanjutnya, mendem pedagingan Bhoma Kerti, menurut Ka bintaldam IX/ Udayana, pedagingan ini adalah pedagingan yang terkecil atau Pedagingan pendahuluan untuk pedagingan yang lebih besar berikutnya, namun apabila pelaksanaan Yadnya ini dilaksanakan dengan Jujur, hening, dan iklas pedagingan ini akan mempunyai kwalitas yang utama. Pedagingan disetiap bangunan suci Hindu sangat diperlukan untuk menimbulkan vibrasi positif bagi bangunan tersebut, bangunan tersebut akan terinduksi oleh magnet- magnet pedagingan tersebut, karena pedagingan tersebut terdiri dari logam- logam mulia dan permata (Panca Datu), disamping itu dengan Mantra- mantra Suci Weda akan menghidupkan bangunan Suci tersebut.
Setelah mendem Pedagingan, dilaksanakan Upacara penemakuhan, bangunan/ Piasan diisi Plawa ( daun- daunan yang masih hijau), memohon kepada Bhagavan Visvakarman (sebagai Dewa atau Penguasa Bangunan tersebut), serta pesaksi Kepada Sanghyang Siwa Raditya, Sanghyang Tiga Guru Wesesa, dan Sanghyang Tryodasasaksi. Agar bangunan/ Piasan tersebut menjadi hidup kembali, dan disucikan. Mengapa ? bangunan/ Piasan tersebut perlu dihidupkan kembali, karena bangunan tersebut awalnya dibuat dari kayu yang merupakan pohon hidup, kemudian ditebang dan dijadikan bahan bangunan, ini menjadi benda mati ( bangkai), sehingga inilah perlunya bangunan tersebut perlu dihidupkan kembali dengan upacara penemakuhan, pemelaspas, Pasupati atau pengurip- urip, sehingga bangunan tersebut tidak berstatus bangkai (mati)lagi, karena itu bangunan/ Piasan tersebut tidak bisa digunakan untuk Nganteb sebelum selesai diupacarai dengan Penemakuhan, Pengurip- urip, dan Pasupati (dihidupkan kembali). Apabila prosudur ini dilaksanakan dengan benar oleh Sang Pemangku atau yang Muput Upacara, bangunan tersebut akan memancarkan cahaya kehidupan yang memberikan ketenangan, keselamatan, kedamaian dan kebahagiaan bagi yang datang sembahyang di Pura tersebut (ini menurut Mangkukris).
Setelah Upacara Penemakuhan selesai, dilanjutkan dengan Ngaturang Upakara, aturan Para Pangempon Pura (ngayab ke luhur), prosudurnya pertama ditujukan ke Penguasa tertinggi (sebagai Presidennya) Yaitu Sanhyang Widhi Wasa, dalam Upacara ini disebut Sanghyang Tiga Guru Wesesa, dan Sanghyang Tryodasasaksi, baru dilanjutkan Kepada Ida Bhatara- Bhatari, Dewa- Dewi, Sampai yang Paling bawah Sahnyang Cili Manik Maya (Sang Sedahan/ Penguasa Pekarangan), dilanjutkan dengan Masegeh pertama di Padmasana (sanggar Surya) Yang menghaturkan segehan Menghadap Padmasana Segehan ditaruh disebelah kiri Padmasana karena ancangan/ unen- unen Ida Bhatara berada desebelah kirinya, sebagaimana ajudan Presiden atau Insfektur Upacara pasti ajudan pembawa naskah amanat ada disebelah kirinya. Baru dilanjutkan mesegeh di Pelinggih- Pelinggih yang lain sampai dengan terbawah di Penunggun Karang, prosudurnya sama dengan mesegeh di Sanggar surya cuma nama yang diaturi segehan berbeda- beda, misalnya di Padmasana, Sanggar Surya, Halaman Pura atau Merajan bernama Sang Bhuta Bhucari, dihalaman Paibon Sang Durgha Bhucari, di halaman Rumah Sang Kala Bhucari atau Sang Indra Belaka bila ada Pengijeng Karang (Tumbal Karang), di Tugu Penunggun Karang (Penganggih) Sang Bhuta Preta, di ulun jurang Sang Kala Sumungsang, di perbatasan Sungai atau di Sumur Sang Kala Gora, di Perempatan jalan, Pertigaan jalan, jalan yang menombak Rumah, Rumah berbatasan dengan Setra (kuburan) Sang Durgha Maya, di halaman Pintu keluar Rumah (di jalan besar) Sang Durgha Bhucari, dan selanjutnya.
Acara selanjutnya adalah Persembahyangan Bersama, di awali dengan Puja Tri Sadhya, dilanjutkan dengan Keramaning Sembah, dan Metirtha. Pada saat para umat nunas Tirtha, Ka Bintaldam IX/ Udayana, menyampaikan Dharma Wacananya, yang pada intinya beliau menekankan bagaimana perlunya kita melaksanakan persembahyangan bersama, dengan sembahyang bersama kekuatan kesucian akan berlipat ganda, sehingga hal- hal yang bersifat buruk akan cepat dapat di netralisir menjadi kebaikan, disamping itu kita akan dapat tukar- menukar informasi sesama umat, dan akan terjadi jalinan sirahturahmi saling bantu membantu untuk mengatasi kesusahan. Yang paling penting untuk mencari Tuhan kita harus jujur hening, dan iklas. Apabila ada unsur- unsur lain yang bersifat pamerih misalnya Politik, tujuan kita sebenarnya sembahyang sudah menyimpang dari hakekat Dharma itu, oleh karena itu kewajibanmu hanya bekerja tanpa memikirkan hasilnya (bhg.II.47).
Acara terakhir adalah Nyineb/ Ngelebar Ida Bhtara- Bhtari dengan menghaturkan Upakara Penyineban, dan Parama Santih...Om Awighnamastu...Om Santih...Santih...Santih Om...Suksma. (iwp-mangkukris/16112011).


Kamis, 11 Agustus 2011

ARCA DEWA DAN PERWUJUDAN





Ka Bintaldam IX/ Udayana Bapak Letnan Kolonel Caj Drs. I Dewa Ketut Budiana, M. Fil. H, Memberikan Dharmawacana kepada Personil Sipil Maupun Militer yang beragama Hindu Makodam IX/ Udayana Pada persembahyangan tengah hari Madyandina sandhya jam 12.00 wita, bertempat Di Pura Agung Udayana Makodam IX/ Udayana. (Selasa,09/08).
Dalam ceramah Bapak Kabintal tersebut mengambil judul, "ARCA DEWA DAN PERWUJUDAN".Diawali mengulas tentang PURA yang merupakan nama tempat suci Hindu khususnya di Bali. PURA itu berarti Kota Suci sebagai tempat berstananya Tuhan dan segala Manifestasinya, kalau untuk manusia namanya PURI (sebagai tempat tinggal Raja yang lengkap dengan tempat tinggal Orang- orang sucinya, para abdi raja dan lain- lain). PURA atau PARHYANGAN sebagai tempat Suci Hindu ada untuk menyembah Roh- roh Leluhur yang telah meninggal dan telah disucikan Rohnya dengan Upacara Ngeroras, Nyekah, Memukur, Maligya, dan yang tinggi disebut Ngeluwer, status Roh tersebut berubah disebut DEWA HYANG dan setelah diadakan Upacara Nyegara Gunung, Roh- roh Suci tersebut distanakan di Padharman/ Paibon, atau di Merajan Rong tiga (Kemulan), di Jawa di Zaman Kerajaan duhulu Upacara semacam ini disebut Upacara KASODO, Roh- roh yang telah suci ini di Candhikan dan dibuatkan Arca Perwujudan. Jadi bila ditinjau dari tempat yang desembah ada PURA untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dengan segala Manifestasinya, dan ada Pura untuk menyembah Roh- roh leluhur yang telah disucikan, di Bali disebut PURA Dadya, Paibon, Panti atau Pedharman, di Jawa pun kalau kita teliti Candhi ada untuk menyembah Roh Raja seperti Candhi Jago, Candhi Kidal, Candhi Singosari Dan lain- lain. Sedangkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya seperti Candhi Prambanan, Candhi Penataran dan lain- lain, dengan demikian Pura ada yang berfungsi untuk menyembah Roh/ Atma leluhur dan ada yang berfungsi untuk menyembah Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Kembali kepada ARCA DEWA DAN ARCA PERWUJUDAN, pada zaman Kerajaan Hindu dahulu Raja atau Orang- orang Suci yang dihormati bila meninggal, sama perlakuannya seperti yang tercantum dalam petunjuk kitab WEDA, badan wadagnya dikembalikan ke asalnya yang tersusun dari lima unsur disebut PANCA MAHA BHUTA bisa dengan cara ditanam atau dibakar yang penting di Pralina oleh Sang Sulinggih, setelah dipralina Unsur tanah dikembalikan ke tanah, unsur air ke air, unsur api ke api, unsur udara ke udara, dan unsur akasa ke akasa. Unsur Roh/ Atma tidak akan mengingat badan kasarnya yang terbentuk dari lima unsur tadi, selanjutnya Roh/ Atma ini ditarik/ dibuatkan Pengawak dalam bentuk Puspa Sarira atau Puspa Lingga, setelah Roh/ Atma tersebut di dalam Pengawak, pengawak tersebut di Pralina lagi, maksudnya untuk membersihkan Roh/ Atma ini dari kekotoran dosa papa neraka yang diakibatkan oleh Karmanya, dan Upacara untuk Roh/ Atma ini bisa dilakukan beberapa kali asalkan Upacara berikutnya lebih besar tingkatannya dari sebelumnya khususnya dari segi kwalitasnya, kenapa upacara untuk penyucian Roh/ Atma bisa dilakukan lebih dari sekali ?, maksudnya seperti membersihkan serobong/ tudung lampu teplok minyak tanah yang dipenuhi noda hitam akibat nyala lampu tersebut secara terus- menerus, bila dibersihkan/ dilap sekali saja namun belum merasa sempurna bersihnya, bisa di lap/ dibersihkan lagi, tetapi harus dengan lap yang lebih baik dari yang sebelumnya, karena kalau dengan lap pertama atau yang lebih jelek/ kotor, akan menambah lebih suram serobong lampu tersebut, karena itulah harus dipakai lap yang lebih bersih dari yang sebelumnya sehingga lampu itu akan menjadi bersih berkilauan, inilah sebabnya upacara penyucian Roh/ Atma bisa dilakukan berkali- kali dari ngeroras Nyekah sampai dengan ngeluwer. Disinilah orang, banyak tidak mengerti tentang perlakuan terhadap orang meninggal khususnya orang Hindu sangat rumit, bagi orang yang tidak mengerti dan tidak mau tahu memang sangat ruwet, tetapi bagi Orang- orang Hindu yang mendalami ajarannya, merasa sangat bersyukur menjadi penganut Hindu, kitab Hindu/ Weda menyatakan manusia sebenarnya tidak pernah mati, manusia sejatinya adalah Roh/ Atma yang kekal, itu tidak bisa terbakar oleh api, tidak terbasahi oleh air, tidak terkeringkan aleh angin, tidak terluka oleh senjata itu bersemayan di setiap makhluk dan seterusnya. Sedangkan badan kasar/ material kita ini hanyalah seperti baju kalau sudah rusak harus dibuang, itulah sebabnya orang meninggal badan materialnya harus dibuang, di kembalikan keasalnya di pralina supaya tidak diingat oleh badan sejatinya Roh/ Atmanya yang paling cepat dengan cara dibakar dan abunya dalarung ke laut. Sedangkan Roh/ Atmanya yang sudah mengandung rekaman- rekaman karma dari badan wadagnya perlu disucikan, dan disinilah kalau zaman dahulu dibuatkan Arca Perwujudan dan dicandhikan, pada zaman sekarang diganti dengan pengawak, Puspa Sarira, ataupun Puspa Lingga. Roh/ Atma Yang bersangkutan akan masuk kedalam Pengawak, Puspa Sarira, atau Puspa Lingga tersebut, kemudian harus dibakar dan di Pralina agar Karma- karma negatif yang melekat pada Roh/ Atma bersangkutan menjadi berkurang bahkan lenyap sama sekali. Memang penghapusan dosa besar hanya dapat dilakukukan oleh orang yang bersangkutan bukan orang lain, orang lain hanya dapat mengurangi atau menunda akibat perbuatan tersebut, walaupun upacara ini dilakukan oleh Anak, Cucu, atau keturunannya, namun ini adalah wujud membayar hutang dari keturunannya kepada leluhurnya (Pitra Rna) supaya keturunannya terbebas dari karma- karma negatif dan lebur menjadi karma- karma positif, sehingga keturunannya yang melakukan Upacara ini terhindar dari perbuatan dosa terhadap leluhurnya. Dari hasil penelitian Para Arkeolog, Arca perwujudan bentuknya agak kaku, biasanya memegang bunga teratai. sedangkan Arca Dewa bentuknya agat tenang, memegang senjata sesuai dengan nama Dewa tersebut dan dilatar bekangi sinar Dewa (vibrasi). Sekarang walaupun tidak dibuatkan Arca Perwujudan, namun tidak bertentangan dengan petunjuk Kita Suci VEDA, karena Veda menyatakan Roh/ Atma itu adalah kecil sekecil- kecilnya, besar sebesar- besarnya bersifat Nirwikaram tidak dipengaruhi oleh Ruang dan Waktu, sehingga sekarang dapat diwujudkan dengan Banten Upakara Penuntunan, dalam upacara Nyegara Gunung berapapun banyaknya jumlah Roh/ Atma Leluhur yang di tuntun tersebut bisa masuk disana dan distanakan dalam Satu Gedong Bata, Padharman, Paibon, Kemulan Rong Telu, Padadyaan atau Panti. Inilah hebatnya agama Hindu, Orang yang sudah meninggalkan Jazatnya diperlakukan sangat terhormat desembah seperti Malaikat (Dewa- Dewi). Jadi bagi Orang- Orang Hindu Tidak akan sia- sia menanam karma baik kepada Anak, Cucu keturunannya, Keluarga, Masyarakat Bangsa Dan Negara (Dharma Agama dan Dharma Negara). Bersyuhurlah bagi mereka yang masih taat melaksanakan ajaran Hindu, karena semua yang kita lakukan menurut Petunjuk VEDA mengandung makna dan filsafat yang sangat mendalam untuk terwujudnya JAGADHITA dan MOKSA.
Ksamaswamam...OM SANTIH...SANTIH...SANTIH OM... (mangkukris/12082011).

Jumat, 17 Juni 2011

KARMA MARGA








Bintaldam IX/ Udayana melaksanakan Pembinaan Rohani Hindu Kepada anggota Sipil maupun Militer Kodam IX/ Udayana Se Garnizun Denpasar berjumlah lebih kurang 750 Orang, di Pura Praja Raksaka Kepaon Denpasar Bali, sebagai penceramah adalah Bapak Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M. Si, dengan Judul, "Karma Marga". (Kamis, 17/6).

Karma Marga adalah salah satu bagian dari ajaran Catur Marga, yaitu ; Bhakti Marga, Karma Marga, Jenana Marga, Dan Raja Marga. Agama Hindu adalah agama yang pertama ada di dunia ini, kemudian ada orang- orang tertentu yang hanya melihatnya secara subyektif mengatakan agama hindu itu adalah Agama Bhumi, itu tidak benar, memang prosesnya secara alamiah (natural proces), karena ajaran Hindu dalam bentuk Kitab Suci Weda sebagai landasan pokoknya adalah Wahyu di dalam weda disebut Sruti, sruti ini turun dari Brahman (Tuhan) Kepada Orang- Orang Suci Hindu, pada zaman Kerta yuga yaitu suatu zaman belum ada kejahatan- kejahatan seperti sekarang ini, dunia pada zaman itu masih suci. Ada kemungkinan Kitab- kitab Sruti ini dibaca atau ditafsirkan keliru oleh Orang- orang yang bersifat subyektif itu, dia hanya membaca buku- buku tafsir, atau dia sendiri yang menafsirkan sesuai dengan keinginannya, sehingga menyimpulkan Agama Hindu adalah Agama Bhumi, padahal isi pokok weda adalah sruti (wahyu), kemudian baru Smerthi, Acara sada cara dan terakhir adalah Atmanastuti (kebiasaan- kebiasaan Orang- orang Suci). Tentang kerja atau Karma dalam agama Hindu adalah kerja yang tanpa pamerih, tanpa memikir- mikir hasilnya atau menghitung- hitung hasilnya, karena kalau kita terlalu penuh perhitungan berarti kita kena ikatan Hukum Karma dan Samsara. oleh karena itu bekerjalah tanpa terikat dengan hasilnya karena kerja itu adalah kewajiba kita semua, dan Tuhan saja sedetikpun tidak pernah berhenti bekerja,disamping itu apapun yang kita kerjakan hasilnya pasti mengikutinya, karena itu sudah merupakan Hukum Kerja. Ada tiga hal kerja yang perlu diperhitungkan, pertama, bekerja yang benar yalah ilmu kerja harus kita cari tuntut ilmu sampai setinggi- tingginya, kuasai ilmu itu, bekerjalah sesuai dengan ilmu yang anda miliki anda pasti menjadi orang yang profesional dan bekerjalah dengan penuh bhakti/ pengabdian niscaya jagadhita dan moksha akan anda dapatkan, kedua bekerja salah, ini terjadi karena kebodohan, atau karena tidak memahami pekerjaannya, sehingga mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain, bila kita bekerja salah akan kena Hukum Karma dan Samsara, karena kena hukum karma yang bersangkutan akan menjalani hidup :sukha, dukha, lara, pati, oleh karena itu jangan sampai bekerja salah. ketiga, tidak bekerja, ini sangat berbahaya karena kehidupanpun tidak akan bisa dipertahankan karena kita akan selalu mnyusahkan arang lain akan kena Hukum Karma dan Samsara, serta ini sangat bertentangan dengan kepribadian Tuhan karena Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bilaTuhan berhenti bekerja jagadraya beserta isinya akan macet. Oleh karena itu bekerjalah dengan benar. Kaitannya dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat ber Bangsa dan Bernegara sekarang banyak yang tidak memegang janjinya, ingkar dengan ajaran Panca Satya ( satya Hrdaya, satya Wacana, satya Laksana, satya samaya, dan satya Mitra). Satya ini adalah kejujuran, bila kita jujur pasti akan tercapai kebenaran, bila kita benar senantiasa tujuan hidup di dunia dan akhirat akan tercapai, jika menyimpang dari ajaran Panca Satya ini, jangan harap kita akan mencapai kebebasan (kebahagiaan).

Akhirnya Karma Marga adalah suatu jalan kesempurnaan melalui bekerja yang benar, disiplin, berilmu pengetahuan, dan Do'a.
Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om