Rabu, 16 Februari 2011

MULAT SARIRA




Bapak Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, dalam Dharmawacananya, yang pada hakekatnya menekankan tentang "Mulat Sarira", kaitannya dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini.Dharmawacana ini disajikan Kepada anggota Kodam IX/ Udayana baik sipil maupun Militer Segarnizun Denpasar, Diikuti lebih kurang 800.000 Orang personil, bertempat di Pura Agung Jagadnata Denpasar. Rabu(16/2).
Pada saat ini disebut zaman moderen, bergerak sangat cepat, apapun yang kita inginkan bila ada uang akan sangat mudah didapatkan, dengan demikian uang adalah segala- galanya, dan bila sudah punya uang banyak, alias kaya, banyak yang lupa kepada Tuhan, artinya sembahyang sangat jarang, padahal kalau kita dalami jati diri kita adalah Tuhan sebagai causa primanya, karena itu sekejappun sebenarnya kita tidak boleh lepas dari Tuhan. Kalau kita perhatikan Khususnya Masyarakat Hindu di Bali Hanya 5 persen yang sembahyang ke Merajan, Padahal Merajan itu adalah Tempat Suci Yang paling dekat dengan Keluarga. Karena itu sembahyang harus menjadi kewajiban dan kebutuhan hidup sehari- hari bila kita menginginkan waranugrahanya Tuhan. Bila hanya uang/ artha menjadi tujuan hidup kita akan terjadi; kita mencari Tuhan bila ditimpa kemalangan (hidup sengsara), bila jatuh sakit, bila mencari kekayaan/ artha, dan bila mencari ilmu pengetahuan. Karena persoalan demikianlah manusia baru ingat mendekat mencari Tuhan, dan ketika sehat dan banyak artha lupa diri, sangat banyak lupa dan dikuasai oleh kegelapan dalam bentuk Sapta Timira dan Sad Ripu.
Karena itu dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini: Pertama mari kita gunakan Wiweka, analisis mana yang baik dan mana yang buruk, masalah Wiweka ini sangat sulit dilaksanakan, orang sucipun bisa kehilangann Wiweka, contoh Maharsi Sarma menggendong seekor Kambing ketemu tiga orang penjahat, penjahat pertama berkata kepada Maharsi Sarma, bahwa yang dibawa itu adalah anjing, penjahat kedua mengatakan anak sapi, dan penjahat yang ketiga mengatakan keledai. Maharsi marah dan mau mengutuknya tetapi setelah para penjahat itu memohon maaf, para penjahat itu dimaafkannya. Akhirnya Maharsi itu berfikir jangan- jangan yang digendong itu adalah Setan karena para penjahat itu mengatakan bahwa yang dibawanya itu bukan kambing akhirnya kambing itu ditinggalkannya, karena kurang Wiweka. Kedua, kendalikan Pikiran, Pikiran jangan diberikan terseret ke hal- hal yang negatif atau yang merugikan, pikiran setiap detik berontak bagaikan seekor burung liar yang dipegang di tangan setiap saat mau melepaskan diri, bila pikiran terseret kehal- hal yang merugikan diri- sendiri, anak, isteri, keluarga masyarakat, Bangsa dan Negara, cobalah berfikir berlawanan misalnya mau selingkuh pikirkan dosa- dosanya, mau korupsi bayangkan bagaimana dipenjara bila digebugin oleh para tahanan dan sipir penjara dan lain- lain.
Akhirnya untuk menghadapi hidup dan kehidupan ini, mari kita hadapi dengan ber Wiweka, kendalikan pikiran, manfaatkan Iptek kearah hal- hal yang positif yang menguntungkan kerohanian kita, dan yang palin Pokok Laksanakan Tugas dan Kewajiban kita mencari Tuhan dan Sembahyang setiap saat sesuai petunjuk Kitab Suci Weda. Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om

Jumat, 21 Januari 2011

PENGENDALIAN DIRI





Bintaldan IX/ Udayana melaksanakan Pembinaan Rohani Agama Hindu, diikuti oleh para anggota Militer maupun Pns Kodam IX/ Udayana se Garnizun Denpasar bertempat di Pura Agung Jagadnatha Denpasar Bali, jumlah hadir lebih kurang 700 orang, sebagai Penceramah Bapak Prof. Dr. Ida Bagus Gunada, M.Si. Dengan judul Dharmawacana adalah,"Pengendalian Diri". Kamis (20/1). Sebagai pendahuluannya, Bapak Prof. Gunada yang juga mantan Rektor IHD yang kini menjadi UNHI, sekarang beliau menjabat sebagai Ketua Jurusan Pasca Sarjana, dan Guru Besar UNHI yang memiliki 16 Guru Besar. Beliau menceritakan asal- usul adanya IHD sampai menjadi UNHI, dan adanya Pesta Kesenian Bali setiap Tahun, itu dirintis oleh Almarhum Profesor Ida Bagus Mantra. Berkaitan dengan judul Dharmawacananya, Pengendalian diri dalam hidup dan kehidupan sebagai manusia adalah merupakan realisasi perintah agama, karena tanpa pengendalian diri hidup akan kacau, dan tujuan agama Hindu yang diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia tidak akan tercapai, untuk bisa mengendalikan diri, di dalam ajaran Weda banyak sekali yang dapat dipedomani.
Sekarang mengapa kita manusia perlu mengendalikan diri ? karena dahulu kala Prajapati menciptakan Raksasa dan Manusia, Raksasa atau Asura sifatnya selalu membikin kekacauan selalu menebarkan zat- zat yang berracun, sedangkan para Dewa selalu menebarkan kebaikan kebenaran untuk keselamatan semuanya, sehingga terjadi sifat- sifat yang kontradiktif, selalu terjadi pertentangan dan pertempuran para Raksasa melawan para Dewa. Selanjutnya Prajapati menciptakan Manusia, yaitu Dewa digabungkan dengan Raksasa, jadilah manusia yang mempunyai dua sifat Yaitu sifat Dewa (Suri sampat), dan sifat Raksasa (Asuri sampat), karena adanya dua sifat/ watak inilah didalam diri manusia, sehingga kita sebagai manusia perlu mengendalikan diri. Pengendalian diri ini dalam ajaran Agama Hindu disebut tapah, tapah ini berisi kejujuran, kebenaran, keadilan. Jadi tapah itu adalah kesucian. Apabila kita kaitkan dengan kehidupan sekarang tuntutan hidup secara duniawi sangat banyak karena perkembangan zaman, persaingan hidup sangat ketat, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan ini masing- masing ada keterbatasannya, inilah perlunya pengendalian diri, diawali dari pengendalian pikiran, kata- kata, dan tingkah laku kita agar jangan sifat- sifat keraksasan kita yang menang karena didalam diri kita sudah ada unsur- unsur keraksasan ini, sedikit saja kita salah menyikapi hidup dan kehidupan ini kita akan menjadi raksasa/ asura, ingat setelah kematian di Bhumi ini kita hidup didunia lain, sorga atau neraka (dunia rohani) sesuai petunjuk ajaran Weda.
Artha, kita cari tetapi harus berdasarkan Dharma, jangan karena hartha kita menjadi susah dan tidak tenang. Tetapi bila karena Artha kita menjadi sejahtera, bahagia lahir bathin baik dunia maupun akhirat, terpenuhilah kama ( keinginan ) kita seuai dengan ajaran Catur Purushaartha. Oleh karena itu jadilah Manusia berwatak /berkepribadian "Dewa" (Suri Sampat). Om Santih...Santih...Santih Om... Suksma...

Kamis, 30 Desember 2010

SIWARATRI MERUPAKAN JALAN UNTUK MENUJU PEMBEBASAN




Bintaldam IX/ udayana melaksanakan Pembinaan Rohani Hindu, dan melaksanakan do'a dalam Rangka menyambut Tahun baru 2011, dan pelaksanaan Siwaratri pada Tilem Kapitu tahun masehi 2011, dikuti oleh para personil baik sipil maupun militer Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar, bertempat di Pura Agung Jagadnatha Denpasar, sebagi pendharmawacana adalah Bapak Mayor Caj Drs. I gusti Nyoman Japi. Dengan judul, "Siwaratri Merupakan Jalan Untuk Menuju Pembebasan". Kamis (30/12).
Siwaratri menurut lontar Siwaratri Kalpa diperingati setiap Tahun yaitu pada, "Catur Dasi Kresna Paksha Tileming Kapitu" artinya pada panglong ping 14 tilem sasih kapitu, atau 14 hari setelah bulan pernama sasih kapitu. Kalau kita perhatikan dalam satu tahun ada 12 tilem, tilem Kapitu adalah kedudukan bulan yang paling gelap, dari kedudukan kita di bhumi ini, dan pada saat ini bila tidak berhati- hati kita akan dikuasai oleh peteng pitu (sapta timira), oleh karena itu kita harus melaksanakan bhrata atau pengendalian diri bermiditasi menyembah Tuhan (Siwa). Petunjuk dalam melaksanakan Siwaratri dapat kita ambil hikmahnya dari cerita Lubdaka, yang disusun oleh Mpu Tanakung, Lubdaka adalah sosok Manusia pekerjaannya membunuh binatang- binatang, karena dia seoarang pemburu, didalam ajaran Hindu menyatakan pekerjaan seorang pembunuh makhluk binatang tanpa tujuan suci adalah dosa (Himsakarma), tetapi dosa- dosa Lubdaka dihapuskan atau dimaafkan oleh Tuhan (Siwa), karena Lubdaka pada hari Tilem Kapitu telah melakukan penebusan dosa dengan melaksanakan Bhrata Siwaratri, yaitu setelah seharian berburu binatang Lubdaka tidak mendapatkan binatang buruan, sehingga bermalam ditengah hutan, supaya tidak dimangsa binatang buas, Lubdaka beristirahat diatas pohon Bila, dan supaya tidak mengantuk takut jatuh dari atas pohon Lubdaka memetik- metik daun Bila tersebut dijatuhkanya kedalam telaga yang kebetulan disana ada Lingga. Sebagaimana kita ketahui Lingga adalah perwujudan Tuhan sebagai Siwa, daun- daun bila yang dipetik oleh Lubdaka secara tidak sengaja semuanya jatuh di Lingga tersebut yang disana ada Tuhan dalam wujud Siwa yang sedang bermeditasi dan di tanggapinya oleh Siwa ada seorang Bhakta bernama Lubdaka menyampaikan persembahan kepada beliau dan mampu mengatasi hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang sangat berat. Lubdaka telah berhasil melaksanakan Jagra (tidak tidur semalam suntuk dan menyembah Siwa dengan menjatuhkan daun- daun Bila ke Lingga tersebut), Monabhrata(tidak mengumbar kata- kata atau tidak berbicara yang tidak perlu atau suci), Upawasa (karena Lubdaka pada saat itu tidak ada makan apa- apa, atau menahan lapar/ puasa). Akhirnya Lubdaka setelah meninggal masuk ke Siwa Loka, dosa- dosanya sebagai pembunuh binatang /pemburu dibebaskan oleh Tuhan (Siwa), karena Lubdaka telah melaksanakan Bhrata Siwaratri ( jagra, mona bhrata, dan upawasa) tepat pada Tileming sasih Kapitu.
Dari ceritera Lubdaka diatas, kita semua lahir ke dunia ini adalah sebagai pemburu ada pemburu kebenaran dan kesucian, ada yang tidak benar dan tidak suci. Semua perburuan ini akan menghadapi rintangan- rintangan dan akan bisa jatuh kelembah dosa. Daun- daun Bila atau don adalah sarana untuk mencapai tujuan, apabila sarana- sarana ini dapat kita gunakan dengan tepat pada tempat waktu dan keadaan kita sebagai pemburu akan sampai pada tujuan yaitu bebas dari dosa- dosa yang kita pernah perbuat sehingga akan menyatu ke jati diri kita yaitu Tuhan (Siwa). Disamping itu Mpu Tanakung menyatakan, bila kita Jagra (melek, begadang) dan menyembah Siwa pada malam Siwaratri, Siwa akan membebaskan dosa- dosa kita. Karena itu Pada hari Siwaratri, kita laksakan Bhrata Siwaratri, wujudkan lingga haturkan upakara- upakara, serta nama smaranam kepada Siwa.
Kesimpulannya : Ajaran Siwaratri adalah menumbuhkan kesadaran, karena ada kemungkinan kita penuh dosa, sehingga kita sadar harus di tebus dengan berbuat baik dan menyembah Tuhan (Siwa). Ajaran Siwaratri memberikan motivasi agar selalu sadar dan terhindar dari perbuatan- perbuatan asubhakarma. Ajaran Siwaratri menghindarkan keputus asaan dalam menhadapi hidup dan kehidupan ini. Dan sebagai jalan untuk bertobat, sehingga Moksartham jagadhitaya ca iti dharma yang merupakan tujuan Agama Hindu senantiasa akan tercapai.
Om Ksamaswamam... Namaste...Om

Selasa, 30 November 2010

KALI YUGA





Anggota Kodam IX /Udayana, se Garnizun Denpasar, mengikuti Bimbingan Rohani Hindu di Pura Agung Jagadnatha Denpasar, berjumlah lebih kurang 250 Orang, sebagai penceramah adalah Ibu Dra. Ni Made Sriarwati, dari Depag Propinsi Bali, dengan Topik, "KALI YUGA".Senin (29/11).
Kali yuga yang merupakan salah satu bagian dari Catur yuga (Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga), merupakan pembagian masa/ zaman berlangsungnya jagadraya ini beserta isinya. Menurut Manu Dharma Sastra, setengah kalpa terdiri dari 14 zaman Manusia , dan masing- masing zaman manusia ada catur yuganya, disebut catur yuga minor, karena pada setiap zaman manusia misalnya akan terjadi kali yuga tetapi kehancurannya tidak total, dan setelah masuk ke- 14 zaman manusia akan terjadi kali yuga total, jagadraya beserta isinya ini akan musnah total yang ada hanya Brahman dan beryoga selama setengah hari Brahman kemudian jagadraya beserta isinya akan tercipta lagi dari diri Brahman. 14 zaman manusia adalah siang harinya Brahman, sehingga malam hari dan siang harinya Brahman adalah satu harinya Brahman atau satu Kalpa. jagadraya beserta isinya dan 14 zaman manusia adalah setengah harinya Brahman. Pada saat ini kita baru masuk pada zaman manusia yang ke-7 dari 14 zaman manusia tersebut, yaitu memasuki zaman Kali yuga minor, dan bisa saja terjadi kiamat tetapi tidak total.
Ciri- ciri zaman kali yuga saat ini adalah serba terbalik dengan Kerta yuga sebagai mana banyak diuraikan dalam kitab Parasara Dharmasastra, pada zaman Kerta yuga bila kita mau menolong orang harus orang yang mau menolong datang kepada orang- orang susah (yang harus ditolong), karena orang susah tidak mau membebani orang lain, sedangkan pada zaman kali ini orang susah yang mendatangi orang- orang yang mau menolong dan orang yang mau menolong ada pamerih ada keinginan tertentu dibalik pertolongan itu secara duniawi misalnya dukungan politik menjelang pemilu dan lain- lain, sehingga pertolongannya itu tidak suci lagi, kalau zaman kerta semua pertolongan adalah tanpa pamerih dan suci.Pada zaman kali banyak Orang- orang suci kurang dihormati dan kurang berwibawa, kadang- kadang Ida Pedanda, Rsi, Mpu atau Sang Dwija dipaksakan untuk melaksanakan upacara misalnya kematian padewasaannya kadang- kadang tidak tepat, me mohonnya melalui telepon lagi karena ingin serba cepat, tata krama, pakem upakara, upacara menjadi sangat merosot, orang- orang pintar, jujur, suci kurang dihormati, dan kurang diperhatikan di Masyarakat. Yang punya kedudukan/ berkuasa, dihormati adalah yang punya harta/ uang walaupun cara mencarinya dengan cara tidak halal atau curang, pohon- pohon ditebangi, tanaman- tanaman bunga dimusnahkan untuk membuat Banten membeli saja, yang dipelihara burung- burung dikurung dalam sangkar , anjing diikat dengan rantai atau dikerangkeng, dalam hidup banyak sekali tuntutannya walaupun sudah punya artha banyak, sehingga antar saudara, keluarga dan lain- lain terjadi ketegangan- ketegangan, kurang percaya denga Tuhan Pratima dicuri, akhirnya timbul keputus asaan hidup, dan makin banyak orang- orang yang stress. akankah kita mau terjerumus kedalam kehancuran ini.
Sebagai umat Hindu kita percaya kepada ajaran Weda, disana ada petunjuk dan larangan untuk menyikapi hidup ini, karena di zaman kali ini masih ada manusia jujur benar dan suci Sebanyak 25 % dan tidak baik 75 %. Apakah kita mau bergabung kedalam yang tidak baik yang 75 % itu, atau kedalam yang baik yang 25 % itu. Bila kita mau baik dan selamat didunia dan akhirat, laksanakanlah petunjuk weda patuhi larangannya laksanakan perintahnya, amalkan dan laksanakan Hukum Karma Phala tersebut, kerena hidup tidak berakhir sampai disini tetapi masih ada dunia lain yang kekal (Brahma Jyotir). Ksamaswamam. Om Santih...Santih...Santih Om.

Selasa, 17 Agustus 2010

ANGGOTA KODAM IX/ UDAYANA SE- GARNIZUN DENPASAR MELAKSANAKAN DOA BERSAMA DALAM RANGKA HUT PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA TGL 17 AGUSTUS 2010




Para personil kodam IX/ Udayana Se- Garnizun Denpasar yang beragama Hindu melaksanakan doa bersama dalam rangka ke- 65 Hut Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2010, bertempat di Pura agung Jagadnatha Denpasar dipimpin oleh Bpk. Letnan Kolonel Caj Drs. I Dewa Ketut Budiana, M. Phil.H (Ka Bintaldam IX/ Udayana). Senin (16/8).
Dalam Dharmawacananya Ka Bintaldam IX/ Udayana mengambil judul tentang ,"Ethos Kerja". Pertama kita harus mensyukuri hidup ini apapun profesi kita baik sebagai buruh, petani, manager, pegawai negeri dan lain- lain, karena manusia secara rohaniah tidak diukur dari latar belakang tersebut, tetapi secara rohani (Tuhan) menilai kita melalui karma, sudah benarkah kita melaksanakan tugas- tugas tersebut, misalnya seorang manager dengan meja kantor yang mengkilap tetapi tidak jujur, tidak adil koruptor lama kelamaan pasti terbongkar, dan secara rohani pasti nilainya negatif, lain halnya dengan buruh bila bekerja tidak memikirkan hasilnya dia akan tenang, tidak gelisah dalam hidupnya dan cara hidupnya sesuai dengan apa yang didapatkannya tidak terikat kepada diluar kemampuanya inilah kebahagiaan, secara rohani akan mendapat nilai positif. oleh karena itu bekerjalah jangan semata- mata hasil yang menjadi motip anda bekerja, inilah namanya pengabdian (Bhagavadgita bab II Sloka 47). Kedua, Ciptakan kesucian.Dalam dunia kerohhanian bila kita sembahyang Ke Pura, Merajan, atau tempat- tempat Suci, ciptakanlah kesucian bicara yang suci sebab seperti teori Quantum getaran vibrasi dari seseorang akan mempengaruhi yang lainnya, dan jangan lupa sebelum sembahyang nyanyikan kidung- kidung suci sebab ini adalah wujud yadnya. Ketiga, harus punya tanggungjawab harga diri misalnya seorang Perwira bagaimana bersikap dikantor, di rumah dan di masyarakat lingkungan kita berada, kita harus mampu menyelesaikan masalah, dan jangan sampai kita dimasalahkan. Dalam teori ethos kerja kita ambil contoh kelapa jangan kita menjadi sebatas kulit luar ( sambuk), dan tempurungnya saja, kita harus menjadi isinya itulah manusia utuh (lengkap).
Akhirnya kerja adalah rahmat dari Ida Sanghyang Widhi Wasa, kerja adalah panggilan suci, kerja adalah aktualisasi diri, kerja adalah pelayanan ( pengabdian).
Om awighnamastu, ksamaswamam, Santih...Santih...Santih OM.

Rabu, 21 Juli 2010

MEMAKNAI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM KEHIDUPAN SEHARI- HARI




Ibu Dra. Ni Made Sriarwati, dari Departemen Agama Provinsi Bali, memberikan pembinaan rohani Hindu kepada lebih kurang 700 orang personil Kodam IX/ Udayana se Garnizun Denpasar, di Pura Agung Jagadnatha Denpasar, Rabu (21/7).
Judul dharmawacananya adalah, "Memaknai Ajaran Tri Hita Karana dalam Kehidupan Sehari hari".Tri Hita Karana artinya, tiga hal yang menyebabkan kita selamat atau rahayu, ini adalah ajaran Agama Hindu, tetapi berlaku secara universal, sebab siapapun kalau melaksanakan ajaran ini dalam hidupnya akan tertata dengan baik, hidupnya akan penuh dengan disiplin, hidupnya akan sesuai dengan aturan- aturan yang berlaku untuk keselamatan semua, kita akan menempatkan diri sesuai dengan aturan- aturan Tri Mandala/ Tri Angga, yaitu kita akan mampu membedakan mana kepala, badan dan kaki, artinya kita di dalam menjalani hidup ini sesuai dengan hak dan kewajiban kita, mana yang boleh kita lakukan dan mana yang tidak boleh kita lakukan, dan apabila di dalam masyarakat kita banyak terjadi perbuatan- perbuatan yang melanggar aturan ajaran Agama kita (Hindu), kehidupan akan semakin kacau.
Ajaran Tri Hita Karana, menurut Ibu Sriarwati yang juga sebagai dosen agama Hindu di beberapa Perguruan Tinggi Hindu, terdiri dari :Pertama adalaParhyangan, yaitu hubungan kita dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa, dalam bhuwana agung di Desa Pakraman misalnya berupa Kahyangan Tiga (Pura), di dalam pekarangan kita disebut Merajan, sanggah, Paibon (gedong bata), disini tempat kita untuk menyembah Tuhan untuk kita mendapatkan keselamatan, Merajan ataupun Paibon adalah kawitan kita untuk menyampaikan Bhakti kita kepada Hyang Widhi yang paling dekat, dan ini adalah sebagai Uttama Mandala, di dalam diri kita pun ada Tri Hita Karana, kita harus selalu dekat dengan Hyang Widhi dan selalu menyebut nama beliau, dan mengingatnya kita pasti akan selamat didalam hidup dan kehidupan ini yang penuh dengan tantangan dan bila kita salah menyikapinya pikiran akan tidak terkendali bisa kita terjebak kedalam lembah dosa, oleh karena itu sembahlah Hyang Widhi dengan segala manifestasinya. Kedua, adalah Pawongan, adalah keharmonisan hidup antara sesama manusia, warga, ataupun semua makhluk hidup, kalau didalam masyarakat atau Desa Pakraman, kita harus rukun atar krama Banjar, saling membantu, jangan melanggar aturan- aturan adat dan Agama sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, didalam rumah tangga Suatu pekarangan para anggota rumah tangga harus mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya masing- masing saling membatu, harus ada yang mampu mengalah bila ada perselisihan dan memcari jalan tengah yang terbaik dan jangan lupa selalu sembahyang dimerajan, dekat dengan leluhur, kawitan, dan selanjutnya. Ketiga adalah Palemahan, kita harus serasi dan harmonis dengan lingkungan, yang terdiri dari wilayah kita misalnya Desa Pakraman batas wilayah harus jelas, pohon-pohon jangan dihabiskan
/detebangi, malahan harus ada gerakan penanaman pohon kembali, lahan- lahan yang gundul harus dihutankan, sehingga tidak terjadi bencana atau banjir bila musim hujan tiba.
Akhirnya marilah kita sebagai umat Hindu yang satu- satunya agama memiliki ajaran Tri Hita Karana, laksanakan ajaran tersebut dalam hidup dan kehidupan ini, sehingga global warning dapat terjawab.
AWIGHNAMASTU, NAMASTE.


Kamis, 29 April 2010

HAKEKAT HARI RAYA GALUNGAN





Bapak Drs. Iketut Wiana, MAg, kamis (29/4) dalam Dharmawacananya kepada lebih kurang 500 orang anggota Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar yang berkisar tentang memaknai pelaksanaan hari raya Galungan dalam waktu dekat ini. Rangkaian hari raya Galungan dimulai dari
tumpek wariga (sabtu keliwon wuku wariga) sampai dengan rabu keliwon wuku pahang. Tujuannya dalam rangka kemenangan Dharma melawan Adharma, Dharma adalah kebenaran dan kebenaran ada sebagai akibat dari kejujuran (satyam), karena itu kita yang berpegang dari Dharma punya kewajiban hidup dan kehidupan, dan kemenangan dharma jangan diartikan hanya kemenangan kita dalam mengorbankan binatang dalam penampahan Galungan.
Orang- orang khususnya umat Sedharma yang benar- benar memaknai Galungan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini harus benar- benar menjalankan disiplin hidup, bagaimana dalam rumah tangganya seorang suami harus menghormati serta menghargai isterinya karena dalam sastra Hindu menyatakan dimana wanita dihormati disana para Dewa akan turun, karena disana akan ada korban suci (Yadnya), tetapi dimana wanita tidak dihormat, tidak dihargai serta disepelekan disana yang akan ada setan- setan dan kehancuran (Adharma).
Dalam hidup ini kita harus wajar- wajar saja, jangan hanya mementingkan diri sendiri, bila perlu orang lain dibantu sesuai dengan kemampuan kita, tingkatkan SDM nya, ingat kita adalah bersaudara dengan dunia dan isinya ini. Akhirnya kemenangan Dharma dalam memaknai Galungan bagaimana diri kita bermanfaat atau berguna untuk kepentingan yang lebih besar, diri sendiri keluarga Bangsa dan Negara. OM SANTIH...SANTIH...SANTIH OM