Jumat, 17 Juni 2011

KARMA MARGA








Bintaldam IX/ Udayana melaksanakan Pembinaan Rohani Hindu Kepada anggota Sipil maupun Militer Kodam IX/ Udayana Se Garnizun Denpasar berjumlah lebih kurang 750 Orang, di Pura Praja Raksaka Kepaon Denpasar Bali, sebagai penceramah adalah Bapak Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M. Si, dengan Judul, "Karma Marga". (Kamis, 17/6).

Karma Marga adalah salah satu bagian dari ajaran Catur Marga, yaitu ; Bhakti Marga, Karma Marga, Jenana Marga, Dan Raja Marga. Agama Hindu adalah agama yang pertama ada di dunia ini, kemudian ada orang- orang tertentu yang hanya melihatnya secara subyektif mengatakan agama hindu itu adalah Agama Bhumi, itu tidak benar, memang prosesnya secara alamiah (natural proces), karena ajaran Hindu dalam bentuk Kitab Suci Weda sebagai landasan pokoknya adalah Wahyu di dalam weda disebut Sruti, sruti ini turun dari Brahman (Tuhan) Kepada Orang- Orang Suci Hindu, pada zaman Kerta yuga yaitu suatu zaman belum ada kejahatan- kejahatan seperti sekarang ini, dunia pada zaman itu masih suci. Ada kemungkinan Kitab- kitab Sruti ini dibaca atau ditafsirkan keliru oleh Orang- orang yang bersifat subyektif itu, dia hanya membaca buku- buku tafsir, atau dia sendiri yang menafsirkan sesuai dengan keinginannya, sehingga menyimpulkan Agama Hindu adalah Agama Bhumi, padahal isi pokok weda adalah sruti (wahyu), kemudian baru Smerthi, Acara sada cara dan terakhir adalah Atmanastuti (kebiasaan- kebiasaan Orang- orang Suci). Tentang kerja atau Karma dalam agama Hindu adalah kerja yang tanpa pamerih, tanpa memikir- mikir hasilnya atau menghitung- hitung hasilnya, karena kalau kita terlalu penuh perhitungan berarti kita kena ikatan Hukum Karma dan Samsara. oleh karena itu bekerjalah tanpa terikat dengan hasilnya karena kerja itu adalah kewajiba kita semua, dan Tuhan saja sedetikpun tidak pernah berhenti bekerja,disamping itu apapun yang kita kerjakan hasilnya pasti mengikutinya, karena itu sudah merupakan Hukum Kerja. Ada tiga hal kerja yang perlu diperhitungkan, pertama, bekerja yang benar yalah ilmu kerja harus kita cari tuntut ilmu sampai setinggi- tingginya, kuasai ilmu itu, bekerjalah sesuai dengan ilmu yang anda miliki anda pasti menjadi orang yang profesional dan bekerjalah dengan penuh bhakti/ pengabdian niscaya jagadhita dan moksha akan anda dapatkan, kedua bekerja salah, ini terjadi karena kebodohan, atau karena tidak memahami pekerjaannya, sehingga mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain, bila kita bekerja salah akan kena Hukum Karma dan Samsara, karena kena hukum karma yang bersangkutan akan menjalani hidup :sukha, dukha, lara, pati, oleh karena itu jangan sampai bekerja salah. ketiga, tidak bekerja, ini sangat berbahaya karena kehidupanpun tidak akan bisa dipertahankan karena kita akan selalu mnyusahkan arang lain akan kena Hukum Karma dan Samsara, serta ini sangat bertentangan dengan kepribadian Tuhan karena Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bilaTuhan berhenti bekerja jagadraya beserta isinya akan macet. Oleh karena itu bekerjalah dengan benar. Kaitannya dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat ber Bangsa dan Bernegara sekarang banyak yang tidak memegang janjinya, ingkar dengan ajaran Panca Satya ( satya Hrdaya, satya Wacana, satya Laksana, satya samaya, dan satya Mitra). Satya ini adalah kejujuran, bila kita jujur pasti akan tercapai kebenaran, bila kita benar senantiasa tujuan hidup di dunia dan akhirat akan tercapai, jika menyimpang dari ajaran Panca Satya ini, jangan harap kita akan mencapai kebebasan (kebahagiaan).

Akhirnya Karma Marga adalah suatu jalan kesempurnaan melalui bekerja yang benar, disiplin, berilmu pengetahuan, dan Do'a.
Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om

Kamis, 31 Maret 2011

DHARMASANTI HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU CAKA 1933/ 2011 M KODAM IX/ UDAYANA






Anggota Kodam IX/ Udayana yang ber Agama Hindu Se- Garnizun Denpasar berjumlah kira- kira 850 Orang, melaksanakan Dharmasanti Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933/ 2011 M, bertempat di Pura Agung Jagadnatha Denpasar Bali, di pimpin oleh Ka Bintaldam IX/ Udayana. Pada kesempatan tersebut diisi Dharmawacana oleh Bapak Drs. I Ketut Wiana, M. Ag, mengambil topik mengenai Tahun Caka Kaitannya dengan Nyepi. Rabu (30/3).
Mangawali Dharmawacananya, Bapak Ketut Wiana menyatakan, mengapa Tahun Caka begitu penting bagi umat Hindu ?. Pada zaman dahulu di tempat asalnya agama Hindu di India dikawasan Pegunungan Himalaya disana ada lima suku yang saling ingin berkuasa sehingga setiap saat terjadi peperangan untuk menguasai yang lainnya, hidup masing- masing orang selalalu dihantui dengan ketakutan (peperangan dan ketegangan- ketegangan ini berlangsung selama 750 tahun lamanya), dan diantara suku- suku itu ada suku yang hidupnya tidak gampang berbuat kekerasan, tidak mau menang sendiri dan selalu menghormati dan menghargai yang lainnya suku yang dimaksud adalah suku Caka. Suatu saat yang berkuasa adalah Suku Yuehchi (suku cina) dari dinasti Kaniska, Raja ini mulai berpikir kebaikan, untuk memerintah Negara yang begitu luas dan terdiri dari berbagai suku tersebut, sudah tentu tidak bisa dilaksanakan dengan kekerasan atau diktator karena hal ini akan menimbulkan kebencian dimana- mana. Raja Kaniska mulai belajar dari suku Caka yang kepribadiannya terkenal sangat cinta kasih itu mulailah terjadi perkawinan antar suku, kehidupan Masyarakat menjadi damai saling menyapa, saling membantu, saling menghargai dan lain- lain. Akhirnya Raja Kaniska mengadakan konfrensi ke Negaraan dan Tahun Caka dijadikan tahun resmi ke Negaraan, Tahun 1 Caka dimulai Tahun 78 m. yang merupakan puncak timbulnya rasa toleransi, bebas dari peperangan, bebas dari permusuhan,bebas dari kebencian, serta semuanya lebur menjadi cinta kasih. Inilah alasannya mengapa Tahun Caka Dipergunakan oleh Umat Hindu di muka Bhumi ini, dan di Indonesia dirayakan sebagai hari Nyepi, yang sebelumnya dilaksanakan Penyucian Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung seperti Mekiyis (melis) Ke Laut Atau ke Sumber Air, guna mencapai kesucian dan mendapatkan Air Kehidupan Atau Amerta, dan pada puncaknya melaksanakan Catur Bherata Penyepian. Selanjutnya Bapak Ketut Wiana mengatakan, untuk mengatasi hidup dan kehidupan ini kita harus mampu mengendalikan pikiran, karena kalau kita ditundukkan oleh pikiran, hidup kita tidak akan pernah terpuaskan, hidup akan menjadi tegang,resah, marah, bahkan benci. Sekarang bagaimana pikiran itu supaya tenang, karena didalam hidup dan kehidupan ada orang yang luar biasa suksesnya dan ada yang gagal/ miskin sama sekali, disamping itu pikiran akan sangat mempengaruhi perkataan dan tindakan kita, bahkan akan mempengaruhi badan kita, bisa gelisah/ stress atau sakit. Untuk mencapai tujuan hidup baik di dunia ini maupun akhirat, harus diciptakan keseimbangan, untuk mencapai keseimbangan harus ada keserasihan hubungan antar manusia dengan penciptanya, antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan lingkungannya, sehingga timbul saling menghormati tanpa memandang asal- usul (toleransi), inilah sebabnya pelaksanaan perayaan Nyepi mengandung unsur- unsur penyucian, dan pengendalian Suksma Sarira dan Sthula Sarira (Mekiyis, tawur, dan Catur Bherata Penyepian). Apalagi sekarang dengan adanya global warning, dunia semakin kotor polusi dimana- mana, adanya pergeseran musim, hutan semakin gundul, di Bali hutannya hanya tinggal 22 persen dari luas Pulau Bali, Adanya warisan berupa Bhisama untuk mengajegkan Bali dianggap memberatkan rakyat, itu adalah tidak benar. Dari hasil penelitian WHO, sekarang Orang Bali yang ada di Bali hanya 5 persen yang makan sayur yang lainnya makan daging , dan dari 10 juta binatang yang disembelih menghasilkan 3,1 juta ton gas methana, gas ini sangat mengotori dunia dan mempengarui otak dan badan kita sehingga timbul banyak penyakit yang aneh- aneh, umur manusia menjadi lebih pendek dibandingkan dengan zaman duhulu sebelum volusi seperti sekarang ini, kita sebenarnya terlalu terikat dengan badan ini dan terlalu memanjakannya, serta pikiran tidak pernah merasa puas, sehingga walaupun mempunyai kekayaan material untuk tujuh turunan tidak akan pernah puas dan tidak pernah bahagia, sekali lagi itu terjadi karena kemelekatan serta keterikatan pikiran terhadap benda- benda itu. Untuk itu lepaskan keterikatan dan kemelekatan, arahkan untuk menuju kepada kebahagiaan yang sejati, berbuat baik, menyembah Tuhan menjadi seorang Bhakta yang sejati, dengan demikian kita akan terhindar dari keterikatan yang tidak mendasar, karena keterikatan itu sesungguhnya adalah penderitaan, dan ketidak terikatan adalah kebahagiaan.
Seteh Dharmawacana dilanjutkan dengan persembahyangan, nunas Tirtha, Paramasanti, dan diakhiri dengan Dharmasanti ( saling memaafkan). Suksma...

Om Santih...Santih...Santih Om

Senin, 28 Maret 2011

PIODALAN DI PURA AGUNG UDAYANA MAKODAM IX/ UDAYANA, PADA PURNAMA KEDASA 2011.










Para anggota/ personil Makodam IX/ Udayana dan keluarganya, kira- kira berjumlah 700 Orang, bertepatan dengan Purnama Kedasa 2011, melaksanakan Piodalan Pura Agung Udayana di Makodam IX/ Udayana, di puput Oleh Ida Pedanda Kekeran Pemaron, dari Munggu Badung. Pada Piodalan tersebut disampaikan pula Dharmawacana oleh Ka Bintaldam IX/ Udayana Bapak Drs. I Dewa Ketut Budiana, M. Phil. H, dengan judul "Meningkatkan Moralitas di Zaman Kaliyuga". Senin (28/ 3).

Piodalan diawali ngarga Air suci (Tirtha) pembersihan ataupun pengelukatan dan lain- lain oleh Ida Pedanda , selanjutnya semua Upakara dibersihkan atau disucikan, Tuhan yang dimanifestasikan sebagai Sanghyang Tiga Guru Wisesa dan Sanhyang Tryodasa Saksi dimohonkan hadir sebagai saksi dan memberikan wara nugerahanya, yang sebelumnya dihaturkan Pecaruan berupa Panca Sata, setelah bersih dari segala unsur- unsur negatif dan menjadi suci, semua roh- roh suci, Dewa- dewi, Bhatara- bhatari sampai dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), dipendak diharapkan Turun datang berstana Sesuai tempat yang tersedia di Pura yang suci itu, selanjutnya akan menerima persembahan bhakti dari para bhaktanya diwujudkan dengan berbagai upakara, setelah dihaturkan pesucian, pangereresikan, dihaturkanlah jenis- jenis upakara seperti bebangkit, ajuman, bayuan, dan lain-lain sesuai dengan fungsi upakara- upakara tersebut, Selanjutnya dipersembahkan tari Wali berupa topeng Siddha Karya. Pada piodalan tersebut dilaksanakan juga "Pawintenan Saraswati" kepada 20 Orang Kerama Makodam IX/ Udayana dan keluarganya.

Rangkaian Upacara Piodalan Pura Agung Udayana selanjutnya adalah Persembahyangan dan Dharmawacana, Ka Bintaldam IX/ Udayana Bapak Letkol Caj Drs. I Dewa Ketut Budiana, M.Phil. H yang juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD di Salah satu Tingkat Kabupaten di Kalimantan, dengan Dharmawacananya berjudul "Meningkatkan Moralitas di Zaman Kaliyuga", mengatakan kita sekarang berada di dalam zaman Kaliyuga, adalah suatu zaman yang terjadi serba terbalik bila dbandingkan dengan zaman Kerta yuga, zaman sekarang hampir semua urusan dihitung dengan materi dan serba instan, anak- anak sudah biasa menentang nasehat Orang Tua, banyak terjerumus kelembah hitam, seperti mabuk- mabukan, kasus narkoba, kasus kriminal dan perbuatan menyesatkan lainnya. Kepercayaan kepada Tuhan atau keimanan tidak ditindak lanjuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari- hari, karena dalam perdebatan ilmu perpolitikan dan keimanan sangat luar biasa hebatnya, sehingga di zaman kali ini banyak orang- orang tenggelam didalam kemunafikan, dalam kitab- kitab Weda Seperti Brahmaanda Purana, Wisnu Purana, Parasara Dharmasastra dan lain- lain, hanya 25 persen dari Orang- orang di muka Bhumi ini yang keimanannya masih baik artinya pikiran, kata- kata, dan tindakannya sesuai dengan perintah Tuhan, untuk itu mari kita tanyakan kepada diri kita masing- masing apakah kita termasuk golongan 25 persen (ber iman baik) atau tidak. Karena itu marilah kita tingkatkan moralitas kita ini, Pada zaman kali ini sesuai petunjuk sastra Hindu (Weda) kita harus banyak menyebutkan nama Tuhan, untuk itu kita harus rajin sembahyang baik di Rumah seperti Kamar suci, merajan, di Pura- Pura, dan tempat Suci dimanapun berada, minimal laksanan Tri Sandhya Pagi hari, siang hari, dan malam hari (sandhya kala) dan laksanakan Dana Punya Setiap saat misalnya Purnama, Tilem, Piodalan, hari- hari Suci, dan saat- saat persembahyangan sesuai dengan kemampuan masing- masing dengan hati yang tulus iklas. selanjutnya kita harus yakin dan melaksanakan Hukum Karma Phala dan ajaran Tata Susila Hindu untuk menuju kesucian Jagadhita dan Moksa.

Piodalan Pura Agung Udayana Makodam IX/ Udayana Selesai, diakhiri dengan ngelebar dan Parama santih. Om Santih...Santih...Santih Om.

Rabu, 16 Februari 2011

MULAT SARIRA




Bapak Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, dalam Dharmawacananya, yang pada hakekatnya menekankan tentang "Mulat Sarira", kaitannya dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini.Dharmawacana ini disajikan Kepada anggota Kodam IX/ Udayana baik sipil maupun Militer Segarnizun Denpasar, Diikuti lebih kurang 800.000 Orang personil, bertempat di Pura Agung Jagadnata Denpasar. Rabu(16/2).
Pada saat ini disebut zaman moderen, bergerak sangat cepat, apapun yang kita inginkan bila ada uang akan sangat mudah didapatkan, dengan demikian uang adalah segala- galanya, dan bila sudah punya uang banyak, alias kaya, banyak yang lupa kepada Tuhan, artinya sembahyang sangat jarang, padahal kalau kita dalami jati diri kita adalah Tuhan sebagai causa primanya, karena itu sekejappun sebenarnya kita tidak boleh lepas dari Tuhan. Kalau kita perhatikan Khususnya Masyarakat Hindu di Bali Hanya 5 persen yang sembahyang ke Merajan, Padahal Merajan itu adalah Tempat Suci Yang paling dekat dengan Keluarga. Karena itu sembahyang harus menjadi kewajiban dan kebutuhan hidup sehari- hari bila kita menginginkan waranugrahanya Tuhan. Bila hanya uang/ artha menjadi tujuan hidup kita akan terjadi; kita mencari Tuhan bila ditimpa kemalangan (hidup sengsara), bila jatuh sakit, bila mencari kekayaan/ artha, dan bila mencari ilmu pengetahuan. Karena persoalan demikianlah manusia baru ingat mendekat mencari Tuhan, dan ketika sehat dan banyak artha lupa diri, sangat banyak lupa dan dikuasai oleh kegelapan dalam bentuk Sapta Timira dan Sad Ripu.
Karena itu dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini: Pertama mari kita gunakan Wiweka, analisis mana yang baik dan mana yang buruk, masalah Wiweka ini sangat sulit dilaksanakan, orang sucipun bisa kehilangann Wiweka, contoh Maharsi Sarma menggendong seekor Kambing ketemu tiga orang penjahat, penjahat pertama berkata kepada Maharsi Sarma, bahwa yang dibawa itu adalah anjing, penjahat kedua mengatakan anak sapi, dan penjahat yang ketiga mengatakan keledai. Maharsi marah dan mau mengutuknya tetapi setelah para penjahat itu memohon maaf, para penjahat itu dimaafkannya. Akhirnya Maharsi itu berfikir jangan- jangan yang digendong itu adalah Setan karena para penjahat itu mengatakan bahwa yang dibawanya itu bukan kambing akhirnya kambing itu ditinggalkannya, karena kurang Wiweka. Kedua, kendalikan Pikiran, Pikiran jangan diberikan terseret ke hal- hal yang negatif atau yang merugikan, pikiran setiap detik berontak bagaikan seekor burung liar yang dipegang di tangan setiap saat mau melepaskan diri, bila pikiran terseret kehal- hal yang merugikan diri- sendiri, anak, isteri, keluarga masyarakat, Bangsa dan Negara, cobalah berfikir berlawanan misalnya mau selingkuh pikirkan dosa- dosanya, mau korupsi bayangkan bagaimana dipenjara bila digebugin oleh para tahanan dan sipir penjara dan lain- lain.
Akhirnya untuk menghadapi hidup dan kehidupan ini, mari kita hadapi dengan ber Wiweka, kendalikan pikiran, manfaatkan Iptek kearah hal- hal yang positif yang menguntungkan kerohanian kita, dan yang palin Pokok Laksanakan Tugas dan Kewajiban kita mencari Tuhan dan Sembahyang setiap saat sesuai petunjuk Kitab Suci Weda. Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om

Jumat, 21 Januari 2011

PENGENDALIAN DIRI





Bintaldan IX/ Udayana melaksanakan Pembinaan Rohani Agama Hindu, diikuti oleh para anggota Militer maupun Pns Kodam IX/ Udayana se Garnizun Denpasar bertempat di Pura Agung Jagadnatha Denpasar Bali, jumlah hadir lebih kurang 700 orang, sebagai Penceramah Bapak Prof. Dr. Ida Bagus Gunada, M.Si. Dengan judul Dharmawacana adalah,"Pengendalian Diri". Kamis (20/1). Sebagai pendahuluannya, Bapak Prof. Gunada yang juga mantan Rektor IHD yang kini menjadi UNHI, sekarang beliau menjabat sebagai Ketua Jurusan Pasca Sarjana, dan Guru Besar UNHI yang memiliki 16 Guru Besar. Beliau menceritakan asal- usul adanya IHD sampai menjadi UNHI, dan adanya Pesta Kesenian Bali setiap Tahun, itu dirintis oleh Almarhum Profesor Ida Bagus Mantra. Berkaitan dengan judul Dharmawacananya, Pengendalian diri dalam hidup dan kehidupan sebagai manusia adalah merupakan realisasi perintah agama, karena tanpa pengendalian diri hidup akan kacau, dan tujuan agama Hindu yang diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia tidak akan tercapai, untuk bisa mengendalikan diri, di dalam ajaran Weda banyak sekali yang dapat dipedomani.
Sekarang mengapa kita manusia perlu mengendalikan diri ? karena dahulu kala Prajapati menciptakan Raksasa dan Manusia, Raksasa atau Asura sifatnya selalu membikin kekacauan selalu menebarkan zat- zat yang berracun, sedangkan para Dewa selalu menebarkan kebaikan kebenaran untuk keselamatan semuanya, sehingga terjadi sifat- sifat yang kontradiktif, selalu terjadi pertentangan dan pertempuran para Raksasa melawan para Dewa. Selanjutnya Prajapati menciptakan Manusia, yaitu Dewa digabungkan dengan Raksasa, jadilah manusia yang mempunyai dua sifat Yaitu sifat Dewa (Suri sampat), dan sifat Raksasa (Asuri sampat), karena adanya dua sifat/ watak inilah didalam diri manusia, sehingga kita sebagai manusia perlu mengendalikan diri. Pengendalian diri ini dalam ajaran Agama Hindu disebut tapah, tapah ini berisi kejujuran, kebenaran, keadilan. Jadi tapah itu adalah kesucian. Apabila kita kaitkan dengan kehidupan sekarang tuntutan hidup secara duniawi sangat banyak karena perkembangan zaman, persaingan hidup sangat ketat, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan ini masing- masing ada keterbatasannya, inilah perlunya pengendalian diri, diawali dari pengendalian pikiran, kata- kata, dan tingkah laku kita agar jangan sifat- sifat keraksasan kita yang menang karena didalam diri kita sudah ada unsur- unsur keraksasan ini, sedikit saja kita salah menyikapi hidup dan kehidupan ini kita akan menjadi raksasa/ asura, ingat setelah kematian di Bhumi ini kita hidup didunia lain, sorga atau neraka (dunia rohani) sesuai petunjuk ajaran Weda.
Artha, kita cari tetapi harus berdasarkan Dharma, jangan karena hartha kita menjadi susah dan tidak tenang. Tetapi bila karena Artha kita menjadi sejahtera, bahagia lahir bathin baik dunia maupun akhirat, terpenuhilah kama ( keinginan ) kita seuai dengan ajaran Catur Purushaartha. Oleh karena itu jadilah Manusia berwatak /berkepribadian "Dewa" (Suri Sampat). Om Santih...Santih...Santih Om... Suksma...

Kamis, 30 Desember 2010

SIWARATRI MERUPAKAN JALAN UNTUK MENUJU PEMBEBASAN




Bintaldam IX/ udayana melaksanakan Pembinaan Rohani Hindu, dan melaksanakan do'a dalam Rangka menyambut Tahun baru 2011, dan pelaksanaan Siwaratri pada Tilem Kapitu tahun masehi 2011, dikuti oleh para personil baik sipil maupun militer Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar, bertempat di Pura Agung Jagadnatha Denpasar, sebagi pendharmawacana adalah Bapak Mayor Caj Drs. I gusti Nyoman Japi. Dengan judul, "Siwaratri Merupakan Jalan Untuk Menuju Pembebasan". Kamis (30/12).
Siwaratri menurut lontar Siwaratri Kalpa diperingati setiap Tahun yaitu pada, "Catur Dasi Kresna Paksha Tileming Kapitu" artinya pada panglong ping 14 tilem sasih kapitu, atau 14 hari setelah bulan pernama sasih kapitu. Kalau kita perhatikan dalam satu tahun ada 12 tilem, tilem Kapitu adalah kedudukan bulan yang paling gelap, dari kedudukan kita di bhumi ini, dan pada saat ini bila tidak berhati- hati kita akan dikuasai oleh peteng pitu (sapta timira), oleh karena itu kita harus melaksanakan bhrata atau pengendalian diri bermiditasi menyembah Tuhan (Siwa). Petunjuk dalam melaksanakan Siwaratri dapat kita ambil hikmahnya dari cerita Lubdaka, yang disusun oleh Mpu Tanakung, Lubdaka adalah sosok Manusia pekerjaannya membunuh binatang- binatang, karena dia seoarang pemburu, didalam ajaran Hindu menyatakan pekerjaan seorang pembunuh makhluk binatang tanpa tujuan suci adalah dosa (Himsakarma), tetapi dosa- dosa Lubdaka dihapuskan atau dimaafkan oleh Tuhan (Siwa), karena Lubdaka pada hari Tilem Kapitu telah melakukan penebusan dosa dengan melaksanakan Bhrata Siwaratri, yaitu setelah seharian berburu binatang Lubdaka tidak mendapatkan binatang buruan, sehingga bermalam ditengah hutan, supaya tidak dimangsa binatang buas, Lubdaka beristirahat diatas pohon Bila, dan supaya tidak mengantuk takut jatuh dari atas pohon Lubdaka memetik- metik daun Bila tersebut dijatuhkanya kedalam telaga yang kebetulan disana ada Lingga. Sebagaimana kita ketahui Lingga adalah perwujudan Tuhan sebagai Siwa, daun- daun bila yang dipetik oleh Lubdaka secara tidak sengaja semuanya jatuh di Lingga tersebut yang disana ada Tuhan dalam wujud Siwa yang sedang bermeditasi dan di tanggapinya oleh Siwa ada seorang Bhakta bernama Lubdaka menyampaikan persembahan kepada beliau dan mampu mengatasi hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang sangat berat. Lubdaka telah berhasil melaksanakan Jagra (tidak tidur semalam suntuk dan menyembah Siwa dengan menjatuhkan daun- daun Bila ke Lingga tersebut), Monabhrata(tidak mengumbar kata- kata atau tidak berbicara yang tidak perlu atau suci), Upawasa (karena Lubdaka pada saat itu tidak ada makan apa- apa, atau menahan lapar/ puasa). Akhirnya Lubdaka setelah meninggal masuk ke Siwa Loka, dosa- dosanya sebagai pembunuh binatang /pemburu dibebaskan oleh Tuhan (Siwa), karena Lubdaka telah melaksanakan Bhrata Siwaratri ( jagra, mona bhrata, dan upawasa) tepat pada Tileming sasih Kapitu.
Dari ceritera Lubdaka diatas, kita semua lahir ke dunia ini adalah sebagai pemburu ada pemburu kebenaran dan kesucian, ada yang tidak benar dan tidak suci. Semua perburuan ini akan menghadapi rintangan- rintangan dan akan bisa jatuh kelembah dosa. Daun- daun Bila atau don adalah sarana untuk mencapai tujuan, apabila sarana- sarana ini dapat kita gunakan dengan tepat pada tempat waktu dan keadaan kita sebagai pemburu akan sampai pada tujuan yaitu bebas dari dosa- dosa yang kita pernah perbuat sehingga akan menyatu ke jati diri kita yaitu Tuhan (Siwa). Disamping itu Mpu Tanakung menyatakan, bila kita Jagra (melek, begadang) dan menyembah Siwa pada malam Siwaratri, Siwa akan membebaskan dosa- dosa kita. Karena itu Pada hari Siwaratri, kita laksakan Bhrata Siwaratri, wujudkan lingga haturkan upakara- upakara, serta nama smaranam kepada Siwa.
Kesimpulannya : Ajaran Siwaratri adalah menumbuhkan kesadaran, karena ada kemungkinan kita penuh dosa, sehingga kita sadar harus di tebus dengan berbuat baik dan menyembah Tuhan (Siwa). Ajaran Siwaratri memberikan motivasi agar selalu sadar dan terhindar dari perbuatan- perbuatan asubhakarma. Ajaran Siwaratri menghindarkan keputus asaan dalam menhadapi hidup dan kehidupan ini. Dan sebagai jalan untuk bertobat, sehingga Moksartham jagadhitaya ca iti dharma yang merupakan tujuan Agama Hindu senantiasa akan tercapai.
Om Ksamaswamam... Namaste...Om

Selasa, 30 November 2010

KALI YUGA





Anggota Kodam IX /Udayana, se Garnizun Denpasar, mengikuti Bimbingan Rohani Hindu di Pura Agung Jagadnatha Denpasar, berjumlah lebih kurang 250 Orang, sebagai penceramah adalah Ibu Dra. Ni Made Sriarwati, dari Depag Propinsi Bali, dengan Topik, "KALI YUGA".Senin (29/11).
Kali yuga yang merupakan salah satu bagian dari Catur yuga (Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga), merupakan pembagian masa/ zaman berlangsungnya jagadraya ini beserta isinya. Menurut Manu Dharma Sastra, setengah kalpa terdiri dari 14 zaman Manusia , dan masing- masing zaman manusia ada catur yuganya, disebut catur yuga minor, karena pada setiap zaman manusia misalnya akan terjadi kali yuga tetapi kehancurannya tidak total, dan setelah masuk ke- 14 zaman manusia akan terjadi kali yuga total, jagadraya beserta isinya ini akan musnah total yang ada hanya Brahman dan beryoga selama setengah hari Brahman kemudian jagadraya beserta isinya akan tercipta lagi dari diri Brahman. 14 zaman manusia adalah siang harinya Brahman, sehingga malam hari dan siang harinya Brahman adalah satu harinya Brahman atau satu Kalpa. jagadraya beserta isinya dan 14 zaman manusia adalah setengah harinya Brahman. Pada saat ini kita baru masuk pada zaman manusia yang ke-7 dari 14 zaman manusia tersebut, yaitu memasuki zaman Kali yuga minor, dan bisa saja terjadi kiamat tetapi tidak total.
Ciri- ciri zaman kali yuga saat ini adalah serba terbalik dengan Kerta yuga sebagai mana banyak diuraikan dalam kitab Parasara Dharmasastra, pada zaman Kerta yuga bila kita mau menolong orang harus orang yang mau menolong datang kepada orang- orang susah (yang harus ditolong), karena orang susah tidak mau membebani orang lain, sedangkan pada zaman kali ini orang susah yang mendatangi orang- orang yang mau menolong dan orang yang mau menolong ada pamerih ada keinginan tertentu dibalik pertolongan itu secara duniawi misalnya dukungan politik menjelang pemilu dan lain- lain, sehingga pertolongannya itu tidak suci lagi, kalau zaman kerta semua pertolongan adalah tanpa pamerih dan suci.Pada zaman kali banyak Orang- orang suci kurang dihormati dan kurang berwibawa, kadang- kadang Ida Pedanda, Rsi, Mpu atau Sang Dwija dipaksakan untuk melaksanakan upacara misalnya kematian padewasaannya kadang- kadang tidak tepat, me mohonnya melalui telepon lagi karena ingin serba cepat, tata krama, pakem upakara, upacara menjadi sangat merosot, orang- orang pintar, jujur, suci kurang dihormati, dan kurang diperhatikan di Masyarakat. Yang punya kedudukan/ berkuasa, dihormati adalah yang punya harta/ uang walaupun cara mencarinya dengan cara tidak halal atau curang, pohon- pohon ditebangi, tanaman- tanaman bunga dimusnahkan untuk membuat Banten membeli saja, yang dipelihara burung- burung dikurung dalam sangkar , anjing diikat dengan rantai atau dikerangkeng, dalam hidup banyak sekali tuntutannya walaupun sudah punya artha banyak, sehingga antar saudara, keluarga dan lain- lain terjadi ketegangan- ketegangan, kurang percaya denga Tuhan Pratima dicuri, akhirnya timbul keputus asaan hidup, dan makin banyak orang- orang yang stress. akankah kita mau terjerumus kedalam kehancuran ini.
Sebagai umat Hindu kita percaya kepada ajaran Weda, disana ada petunjuk dan larangan untuk menyikapi hidup ini, karena di zaman kali ini masih ada manusia jujur benar dan suci Sebanyak 25 % dan tidak baik 75 %. Apakah kita mau bergabung kedalam yang tidak baik yang 75 % itu, atau kedalam yang baik yang 25 % itu. Bila kita mau baik dan selamat didunia dan akhirat, laksanakanlah petunjuk weda patuhi larangannya laksanakan perintahnya, amalkan dan laksanakan Hukum Karma Phala tersebut, kerena hidup tidak berakhir sampai disini tetapi masih ada dunia lain yang kekal (Brahma Jyotir). Ksamaswamam. Om Santih...Santih...Santih Om.