Rabu, 18 April 2012

MELALUI BERJAPA GAYATRI MANTRA, KITA TINGKATKAN BHAKTI KEPADA IDA SANGHYANG WIDHI WASA DAN NEGARA







Pada hari selasa tanggal 17 April 2012, Bapak I Nyoman Putra, S. Ag, M. Ag, M. Si, memberikan pembinaan Rohani Hindu, Kepada Personil Militer maupun Sipil yang ber Agama Hindu Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar di Pura "Praja Rakcaka" Kepaon Denpasar Bali. (Rabu, 18/4).
Dalam Dharmawacananya Bapak Nyoman Putra mengambil topik, "Melalui berjapa Gayatri Mantra, Kita Tingkatkan Bhakti Kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dan Negara".Mengawali dengan memperkenalkan diri, dari manusia biasa sampai menjadi Rohaniawan yang sudah berkeliling diseluruh wilayah Nusantara ini lebih kurang di 27 Propinsi, beliau menyampaikan Dharmawacananya dengan sangat menghibur dan menyenangkan, inilah ciri- ciri yang tidak dapat disembunyikannya bahwa beliau adalah Rohaniawan yang berpengalaman, syukurlah pencerahan ini sampai kepada kita melalui niat sucinya. Bhakti artinya adalah pengabdian yang tujuannya untuk keselamatan semua fihak dan kepentingan yang lebih besar, bhakti kepada Negara misalnya seorang TNI, harus disiplin, jujur benar dan adil, karena negara itu sesungguhnya adalah meliputi Wilayah, Rakyat, Pemerintahan, dan Militer (TNI). Jadi disiplin, jujur, benar, dan adil adalah wujud Bhakti TNI kepada Negara, dan apabila ini tidak dilakukan, negara akan terus- menerus didera kekacauan, dan pada akhirnya akan menuju kehancuran. Sedangkan Bhakti Kepada Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa), kita sebagai umat Hindu wajib mentaati dan melaksanakan Ajaran- ajarannya yang berisi perintah- perintah sebagai mana yang tercamtum di dalam "Kitab Suci Weda", diwajibkan sembahyang 3 kali se hari (Tri Sandhya), ya kita laksanakan jangan ditawar- tawar lagi. Sehubungan dengan hal ini ada ajaran rahasia yang terdapat didalam kitab Suci Weda, dan banyak umat Se Dharma yang tidak mengetahuinya khususnya Umat Hindu yang ada di Bali, karena memang ajaran Weda itu sangat bersifat Rahasia. Gayatri Mantra, adalah Ibu dari semua Mantra, karena dengan berjapa Gayatri Mantra Sudah mewakili Ribuan Mantra, dan ini sudah di buktikan kedasyatannya oleh Bapak Nyoman Putra sebagai nara sumber, dengan 36 dan 108 kesaksian dari dua buah Bukunya yang sudah diterbitkan tentang Kedasyatan Gayatri Mantra, setelah Berjapa Gayatri Mantra akan timbul vibrasi cinta kasih, sembuh dari penyakit yang diderita, banyak rejeki, penuh dengan perdamaian, intinya sehat dan selamat, serta binatang dan tumbuh- tumbuhanpun akan terlindungi. Dengan Gayatri Mantra setiap sembahyang minimal 9 kali dan bila berjapa sebanyak 108 kali sesuai jumlahnya Gni Tri, dan tepat dilakukan pada waktu- waktu Brahma Muhurtha, misalnya di pagi hari pada pukul 03.30 sd. 04.30 dan selanjutnya pada siang hari dan sandhyakala, Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma akan dapat dicapai. Inilah rahasia ajaran Hindu yang tertuang dalam Kitab Suci Weda, dan banyak yang tidak mendalaminya, oleh karena itu kita yang sudah mengetahui rahasia ini, wajib menularkan/ mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya, terutama kepada anak- anak kita, karena banyak anak- anak sekarang berani melawan orang tuanya akibat orang tuanya tidak mengajarkan Agamanya kepada anaknya. Menurut Kitab Weda, Bagi Orang Tua yang tidak mengajarkan Agama kepada anak- anaknya, anak- anaknya akan menjadi musuhnya, dan apabila berlarut- larut akan menghancurkan hidupnya. Selain berjapa Gayatri Mantra, wajib dilakukan ber Dana Punya pada jaman kali ini, oleh karena itu yadnya dalam bentuk Banten tetap dilakukan, karena dalam Banten tersebut intinya adalah ada Dhaksina, di dalam Dhaksina ada Sesari berupa uang kertas atau uang kepeng, dan pemberian sesari ini karena merupakan Dana Punya agar disesuaikan dengan kemampuan berdasarkan hati yang jujur hening dan tulus iklas. Untuk melakukan perintah Agama sesuai dengan Kitab Suci Weda, agar bermakna dan mencapai tujuan sesuai dengan cita-cita kita ber Agama Hindu, dalam melaksanakan ajaran tersebut, jangan ragu-ragu, lawan sifat- sifat/ kebiasaan- kebiasaan tamas atau malas, hindari ogo yang membahayakan, harus rendah hati, dalami dan laksanakan ajaran- ajaran Weda, bergurulah kepada orang cerdas dan suci, dan akhirnya jangan lupa berjapa Gayatri Mantra setiap saat dan ber Dana Punya sesuai dengan kemampuan. Ber Bhakti kepada Negara, adalah berarti kita dalam hidup dan kehidupan ini harus berbuat disiplin, jujur, adil, demi tegak dan utuhnya Negara ini. Ber Bhakti Kepada Tuhan ( Ida Sanghyang Widhi Wasa), berarti kita melaksanakan ajaran- ajarannya dengan benar, dengan Berjapa Gayatri Mantra, sebagai Ibunya semua Mantra senantiasa akan menghantarkan kita tercapainya tujuan, yaitu kebahagiaan hidup baik di dunia ini maupun dunia akhirat ( Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma). Akhirnya, "Asatoma sat gamaya, tamasoma sat gamaya, mrthyorma amrtham gamaya", artinya Ya Tuhan tuntunlah kami dari ketidak benaran menjadi kebenaran, tuntunlah kami dari jalan yang gelap menjadi jalan yang terang, tuntunlah kami dari kematian untuk menjadi kehidupan yang abadi. Om Santih...Santih...Santih Om.                   


                                                                                

Selasa, 10 April 2012

UPACARA RSI GANA, MUPUK PEDAGINGAN, PEMELASPASAN, DAN PIODALAN PURA AGUNG UDAYANA MAKODAM IX/ UDAYANA








Para Anggota Militer maupun Sipil Makodam IX/Udayana yang ber Agama Hindu, melaksanakan upacara Rsi Gana, Mupuk Pedagingan, Pemelaspasan, dan Piodalan Pura Agung Udayana Makodam IX/ Udayana, pada Purnama Kedasa hari Jumat tanggal 6 April 2012. (Selasa,10/4).

Upacara ini rencananya dihadiri oleh Bapak Pangdam, Kerena sesuatu hal, menjadi diwakilkan Kepada Bapak Asisten Territorial Kasdam IX/ Udayana Bapak Kolonel Inf. I Made Datrawan, hadir juga pada kesempatan tersebut perwakilan dari Para Asisten, Ka Balak serta Denmadam IX/ Udayana, juga para Umat Hindu Makodam dan Keluarganya. Upacara tersebut diawali laporan dari Ketua Panitia Bapak Letkol Kav. I Ketut Arta Yasa, bahwa upacara ini dilaksanakan diawali karena adanya musibah kebakaran Piyasan Pura ini pada tanggal 2 November 2011, dan diadakan perbaikan, ditambah 2 bangunan baru berupa altar tempat Upakara dan dibawahnya dipakai untuk menyimpan alat- alat, prabot , dan karpet sarana persembahyangan. Perbaikan pura ini menghabiskan dana sebanyak Rp 111.000.000,- (Seratus Sebelas Juta Rupiah), dana tersebut didapat dari dana punya umat Hindu makodam, Bapak Bupati Badung, dan Bapak Pangdam IX/ Udayana, kami pada kesempatan ini atas nama umat Hindu makodam dan pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada semua fihak yang telah berpartisifasi baik berupa materi maupun pemikiran demi terwujudnya Pura Dan Upacara seperti ini, mudah- mudahan Tuhan Ida Sanghyang Widhi Wasa, selalu memberikan waranugerahanya kepada kita semua Swasti dan Santih. Pada Purnama kelima kamis pahing wuku Dukut tanggal 10 nvember 2011, telah dilaksanakan Pemelaspasan alit, kemudian sekarang diadakan Upacara yang lebih besar seperti ini. Acara selanjutnya adalah sambutan Pangdam IX/ Udayana yang diwakilkan kepada Bapak Aster Kasdam IX/ Udayana mengatakan, selamat atas telah diperbaikinya dan dilaksanakannya Upacara Rsi Gana, Mupuk Pedagingan, Pemelaspasan, pedudusan alit, dan Piodalan Pura Agung Udayana Ini, mudah- mudahan dengan upacara sebesar ini, dapat lebih meningkatkan keimanan khususnya umat Hindu Makodam IX/ Udayana, jadikanlah Pura ini tempat sembahyang setiap hari, karena setelah Upacara ini, vibrasi kesucian di Pura ini sudah tentu bertambah kuat. Selamat untuk semuanya, Tuhan Memberkati. Acara selanjutnya adalah Upacara pensakralan Pura sesuai ajaran agama Hindu dipimpin oleh Ida Pedanda Ghrya Telabah Munggu Denpasar Bali. Diawali dengan Rsi Gana, yang tujuannya untuk meruwat para Bhuta Kala dengan menstanakan/ mewujudkan Dewa Gana, dilanjutkan dengan Mupuk Pedagingan, Penguri- urip, Pemelaspasan,dan Piodalan Pura, yang setiap Tahunnya dilaksanakan pada Purnama Kedasa. Pada upacara ini dipersembahkan Wayang Sapuleger, dengan dalang Jro Mangku Dalang Mayor Caj Drs. I Gusti Nyoman Japi, disamping itu dipersembahkan juga tari Rejang dari Anak- anak remaja umat Hindu Kodam IX/Udayana, dan Topeng Siddha Karya Dari anggota Kodim 1611/ Badung yang beragama Hindu. Upacara tersebut diakhiri dengan persembahyangan dan Parama Santi, dan pada kesempatan tersebut disampaikan Dharma Wacana oleh Dr. I Gusti Made Ngurah, dalam Dharma Wacananya mengatakan :Upacara Rsi Gana adalah dalam Panca Yadnya termasuk Bhuta Yadnya, yaitu ditujukan kepada para Bhuta Kala, yang tujuannya Para Bhuta Kala agar tidak mengganggu kehidupan Manusia Maupun Para dewa, pada Upacara ini yang sangat berperanan adalah Dewa Gana, sehingga saat Upacara ini diadakan, Ida Sulinggih menstanakan/ mewujudkan Dewa Gana sebagai Awghnaswara, karena Dewa Gana adalah Dewa yang sangat Sakti dan yang mampu mengalahkan Kala Nila Rudraha ketika Sorga diserangnya. Kenapa Dewa Gana menjadi Dewa yang Paling sakti ? Ketika Ibunya Dewa Gana yang bernama Dewi Parwati Beristana di Gunung Kailasa, berpesan... anakku Dewa Gana agar menjaga ibu disini, siapapun yang masuk ke istana ini tanpa seijin ibu terlebih dahulu tidak boleh masuk istana ini. Suatu ketika Dewa Siwa, Ayahnya Dewa Gana atau suaminya Dewi Parwati mau masuk ke Istana Dewi Parwati Di Gunung Kailasa yang Telah dijaga oleh Dewa Gana, Dewa Siwa Tidak Dibolehkan masuk Istana tersebut karena Dewa Gana tidak tahu bahwa dewa Siwa itu adalah Ayahnya, dan juga karena taat dengan perintah Ibunya, sehingga terjadilah peperangan yang sangat dasyat antara ayah dan anak ini, lama terjadi pertempuran tidak ada yang mengalah. akhirnya kemarahan Dewa Siwa Mencapai puncaknya dikeluarkanlah senjata Cakra dan memotong leher Dewa Gana, terpenggallah Dewa Gana, kepala terlepas dari lehernya. Selanjutnya datanglah Dewi Parwati, diikuti oleh para dewa Kahyangan, semuanya menangis sedih, Dewa Siwa baru menyadari bahwa yang di bunuh itu adalah Putranya dan Dewa Siwa menjadi sangat bersedih minta maaf kepada Dewi Parwati sambil memangku jenazah Putranya. Akhirnya para Dewa mengganti kepala Dewa Gana Dengan Kepala Gajah, dan semua memberkati, menghidupkan, mendoakan agar Dewa Gana mejadi Dewa yang paling sakti dan mampu menghancurkan keangkara murkaan, serta menetralisir hal- hal yang negatif menjadi baik (diambil dari salah satu kitab purana). Dengan upacara Rsi Gana Pengaruh- pengaruh negatif para Bhuta Kala diharapkan akan dapat dinetralisir kembali menjadi Roh- roh suci, Dewa- Dewi dan pada akhirnya akan menyelamatkan kita semua atau disebut "Somyo". Demikian besarlah peranan Rsi Gana tersebut, dan upacara ini wajib dilaksanakan bila Tempat Suci, Pura, Merajan, Rumah tempat tingga atau pekarangan kena musibah :Kebakaran, disambar petir, ada lutut (ulat yang sambung- menyambung), ada pembunuhan manusia, ada darah manusia tanpa sebab, mininggal, dan lain- lain. Selanjutnya Mupuk Pedagingan, mupuk berarti menambahi atau menyempurnakan pedagingan yang sudah ditanam disetiap bangunan- bangunan suci tersebut. Pedagingan ini adalah berupa Panca Datu atau lima macam logam (emas, perak, tembaga, besi, dan perunggu) dan ditambah ratna manikam berupa permata Mirah. Panca Datu ini bertujuan untuk menghidupkan vibrasi kesucian didalam tempat suci tersebut sehingga tempat suci tersebut menjadi metaksu dan benar- benar menjadi stananya Para Dewa dan Ida Sanghyang Widhi Wasa, karena Para Dewa atau Tuhan itu adalah Kesucian itu. Penggunaan Panca Datu ini diawali di Bali, pada kedatangan Rsi Markandya, dimana pada kedatangan pertama dengan pengiring 400 Orang gagal menduduki Bali, kemudian pada kedatangan kedua dengan pengiring yang lebih banyak berhasil menduduki Bali, setelah menanam pedagingan berupa Panca Datu di Batu Madeg Besakih Bali. Kemudian Pemelaspasan, bertujuan untuk menhidupkan kembali bangunan- bangunan tersebut dengan menstanakan/ mewujudkan Bhtara Wiswakarman sebagai arsitek bangunan para Dewa. Pemelaspasan ini penting dan disertai dengan pengurip- urip, karena bangunan tersebut, sebagian besar dibikin dari kayu yang sebelumnya merupakan makhluk hidup yang mempunyai eka pramana, kemudian ditebang menjadi mati, dan karena inilah perlu dihidupkan kembali dengan upacara pemelaspas atau di urip, agar kita tidak berada dibawah bangkai (mati). Kemudian Pedudusan Alit atau Agung, bertujuan untuk lebih menajamkam kesucian pada tempat suci tersebut, padudusan alit minimal menggunakan 5 jenis kelapa misalnya kelapa bulan, kelapa udang, kelapa be julit, kelapa rangda, kelapa suddha mala. bila Pedudusan Agung menggunakan 11 jenis kelapa. Selanjutnya upacara Pengenteg Gumi, bertujuan untuk menstabilkan keadaan suatu wilayah yaitu untuk mewujudkan konsep Tri Hita Karana, ini diperlukan korban serba 108 misalnya jenis buah, daun, duri dan lain-lain. Akhirnya Piodalan Atau Pathirtan Pura atau Merajan, adalah untuk memperingati kapan tempat suci tersebut disucikan, ini bisa mengambil sistim Pawukon atau Sasih, bila mengambil Pawukon berarti piodalan setiap 6 bulan, bila mengambil sasih berarti piodalan tersebut setiap 1 Tahun. piodalan ini berarti Ida Bhtara- Bhtari Medal, sehingga para pengempon tempat suci/ Pura bersangkutan memendak yang distanakan di Tempat suci bersangkutan, disinilah para umat mewujudkan Bhaktinya dengan bermacam- macam persembahan, Tuhan sebagai Sanghyang Tiga Guru Wisesa, Sanghyang Tryodasasaksi, akan menyaksikan dan memberkati upacara tersebut bila beliau diwujudkan secara rohani, disamping itu Para Dewa- Dewi, Bhtara- Bhtari, Roh- Roh suci lainnya akan datang sesuai dengan urutannya, setelah menghaturkan piodalan dengan perlengkapannya (upakara), akhirnya diadakan Upacara Nyineb Atau Ngelebar, yang paling dahulu disineb adalahTuhan yang diwujudkan sebagai Upasaksi, kemudian baru diikuti oleh Dewa- Dewi Bhtara- Bhtari, Roh leluhur Pitara-pitari serta para unen-unen rencang iringan semuanya...Suksma. Om Santih...Santih...Santih Om.

Kamis, 19 Januari 2012

MEMAKNAI LUBDAKA DALAM AJARAN SIWARATRI KALPA




Ibu Dra. Ni Made Sriarwati dari Departemen Agama Provinsi Bali, memberikan pembinaan Rohani kepada lebih kurang 700 Orang anggota Kodam IX/ Udayana segarnizun Denpasar, bertempat di Pura Praja Raksaka Kepaon Denpasar Bali. Selasa (17/01).

Ibu Sriarwati yang banyak menyusun Buku- buku tentang Upakara Yadnya dan Gegitaan itu, dalam Dharmawacananya, dengan judul "Memaknai Lubdaka dalam Ajaran Siwaratri Kalpa"mengatakan, Lubdaka semasa hidupnya di dunia ini adalah banyak berbuat dosa, karena dia adalah seorang pemburu binatang berarti dia seorang pembunuh, dalam ajaran Agama Hindu perbuatan ini adalah dosa, dan apabila tidak dilebur dengan penebusan dosa yaitu dengan cara berbuat baik, yang bersangkutan akan jatuh ke neraka, namun Lubdaka berhasil menetralisir dosa- dosanya, dengan cara tidak disadarinya di malam bermeditasinya Bhtara Ciwa (Ciwa Ratri) dihadapan Bhtara Ciwa, Lubdaka melaksanakan Bhrata Ciwa Ratri yang uttama dan sempurna (Jagra, Mona Bhrata, dan Upawasa). Jagra (tidak tidur), Lubdaka tidak tidur semalam suntuk, karena seharian berburu tidak dapat binatang buruan sehingga sampai malam tidur diatas pohon Bila, sambil memetik- metik daunnya dan dijatuhkan kedalam kolam dibawah pohon tersebut, yang kebetulan mengenai lingga yang ada di kolam tersebut dan Bhtara Siwa sebagai perwujudan Lingga tersebut yang sedang bermeditasi menerima persembahan itu, sehingga dianggap sebagai seorang Bhakta yang sangat uttama, sehingga Bhtara Siwa akan melindunginya baik di Dunia maupun diakhirat. Mona Bhrata (tidak berbicara), diatas pohon Bila pada malam Siwa (Siwa Ratri), Lubdaka tidak berbicara sepatah kata pun, Sehingga Lubdaka dianggap ikut melaksanakan kegiatan Bhtara Siwa, karena apabila kita mencontoh dan melaksanakan kegiatan Tuhan, berarti kita sudah melaksanakan perintah Tuhan dan dianggap sebagai seorang Bhakta yang sangat setia, dan balasannya pasti Tuhan menyelamatkan Bhaktanya tersebut. Upawasa (tidak makan dan minum), Lubdaka dalam keseharian berpuasa, karena berpuasa ini adalah memutuskan ikatan duniawi untuk menuju dunia rohani (Brahma Jyotir), dengan tidak makan dan minum Tuhan dalam Manifestasi Bhtara Siwa menganggap sangat dekat dengan Nya.

Dengan perbuatan peleburan dosa Lubdaka yang dilakukan dengan tidak sengaja itu, setelah meninggal, Roh /Atma Lubdaka melalui pengadilan kedewataan, karena dosa- dosanya mestinya di jebloskan ke Neraka, tetapi Tuhan yang dimanifestasikan menjadi Bhtara Siwa itu membebaskan dosa- dosa Lubdaka, karena di malam Siwa (Siwa Ratri), melaksanakan Bhrata Siwa Ratri yang Uttama dan sempurna.

Bila Kita simak narasi diatas, di Dunia ini saat ini banyak manusia- manusia yang pendosa dan sangat sedikit bahkan tidak melaksanakan peleburan dosa baik dengan cara sengaja maupun tidak sengaja. jadi disini banyak Lubdak- Lubdaka yang pada akhirnya dijebloskan di Neraka. Karena itu sadarlah bahwa perbuatan dosa ada yang menyaksikan yaitu saksi Bathin (Rohani), dan saksi Lahir (Dunia), saksi dunia bisa diatur dan bisa dimainkan dengan materi, sedangkan saksi Bathin hanya diri- sendiri dan Tuhan yang tahu. Bila kita sadar akan dosa- dosa yang pernah diperbuat tidak mengulanginya lagi selalu berbuat baik melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisuddha, di jaman kali ini laksanakan korban suci berdana punya bantu yang memerlukan sesuai kemampuan dengan jujur hening dan iklas sebut nama Tuhan berkali- kali yang mempunyai Sehasra (Ribuan) nama laksanakan Siwa Ratri dengan benar, Tuhan Bhtara Siwa senantiasa pasti membebaskan dari ikatan dosa, dengan demikian pintu Sorga akan terbuka lebar... Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om.