Rabu, 16 Februari 2011

MULAT SARIRA




Bapak Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, dalam Dharmawacananya, yang pada hakekatnya menekankan tentang "Mulat Sarira", kaitannya dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini.Dharmawacana ini disajikan Kepada anggota Kodam IX/ Udayana baik sipil maupun Militer Segarnizun Denpasar, Diikuti lebih kurang 800.000 Orang personil, bertempat di Pura Agung Jagadnata Denpasar. Rabu(16/2).
Pada saat ini disebut zaman moderen, bergerak sangat cepat, apapun yang kita inginkan bila ada uang akan sangat mudah didapatkan, dengan demikian uang adalah segala- galanya, dan bila sudah punya uang banyak, alias kaya, banyak yang lupa kepada Tuhan, artinya sembahyang sangat jarang, padahal kalau kita dalami jati diri kita adalah Tuhan sebagai causa primanya, karena itu sekejappun sebenarnya kita tidak boleh lepas dari Tuhan. Kalau kita perhatikan Khususnya Masyarakat Hindu di Bali Hanya 5 persen yang sembahyang ke Merajan, Padahal Merajan itu adalah Tempat Suci Yang paling dekat dengan Keluarga. Karena itu sembahyang harus menjadi kewajiban dan kebutuhan hidup sehari- hari bila kita menginginkan waranugrahanya Tuhan. Bila hanya uang/ artha menjadi tujuan hidup kita akan terjadi; kita mencari Tuhan bila ditimpa kemalangan (hidup sengsara), bila jatuh sakit, bila mencari kekayaan/ artha, dan bila mencari ilmu pengetahuan. Karena persoalan demikianlah manusia baru ingat mendekat mencari Tuhan, dan ketika sehat dan banyak artha lupa diri, sangat banyak lupa dan dikuasai oleh kegelapan dalam bentuk Sapta Timira dan Sad Ripu.
Karena itu dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini: Pertama mari kita gunakan Wiweka, analisis mana yang baik dan mana yang buruk, masalah Wiweka ini sangat sulit dilaksanakan, orang sucipun bisa kehilangann Wiweka, contoh Maharsi Sarma menggendong seekor Kambing ketemu tiga orang penjahat, penjahat pertama berkata kepada Maharsi Sarma, bahwa yang dibawa itu adalah anjing, penjahat kedua mengatakan anak sapi, dan penjahat yang ketiga mengatakan keledai. Maharsi marah dan mau mengutuknya tetapi setelah para penjahat itu memohon maaf, para penjahat itu dimaafkannya. Akhirnya Maharsi itu berfikir jangan- jangan yang digendong itu adalah Setan karena para penjahat itu mengatakan bahwa yang dibawanya itu bukan kambing akhirnya kambing itu ditinggalkannya, karena kurang Wiweka. Kedua, kendalikan Pikiran, Pikiran jangan diberikan terseret ke hal- hal yang negatif atau yang merugikan, pikiran setiap detik berontak bagaikan seekor burung liar yang dipegang di tangan setiap saat mau melepaskan diri, bila pikiran terseret kehal- hal yang merugikan diri- sendiri, anak, isteri, keluarga masyarakat, Bangsa dan Negara, cobalah berfikir berlawanan misalnya mau selingkuh pikirkan dosa- dosanya, mau korupsi bayangkan bagaimana dipenjara bila digebugin oleh para tahanan dan sipir penjara dan lain- lain.
Akhirnya untuk menghadapi hidup dan kehidupan ini, mari kita hadapi dengan ber Wiweka, kendalikan pikiran, manfaatkan Iptek kearah hal- hal yang positif yang menguntungkan kerohanian kita, dan yang palin Pokok Laksanakan Tugas dan Kewajiban kita mencari Tuhan dan Sembahyang setiap saat sesuai petunjuk Kitab Suci Weda. Ksamaswamam...Om Santih...Santih...Santih Om